Share

2 Alasan Indonesia Tertinggal Versi Rizal Ramli

ant, Jurnalis · Rabu 11 Mei 2016 17:12 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 11 320 1385761 dua-alasan-indonesia-tertinggal-versi-rizal-ramli-hRlIzNwrbJ.jpg Ilustrasi : Okezone

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan ada dua alasan mengapa Indonesia masih menjadi negara "tertinggal" ketimbang negara-negara lain yang semakin maju.

"Pertama adalah masalah pengelolaan sumber daya manusia, dan kedua adalah pengelolaan sumber daya alam," katanya seusai rapat koordinasi dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Sofyan Djalil di Jakarta, Rabu (11/5/2016).

Hadir dalam rakor tersebut Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng, Direktur Program Pengusahaan Hulu Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto, perwakilan Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Perhubungan, Kementerian Riset dan Teknologi, Pendidikan Tinggi, serta sejumlah tokoh Maluku.

Menurut Rizal, pada 1960-an, rata-rata perdapatan per kapita negara-negara Asia sekitar USD100. Namun, 50 tahun kemudian, pendapatan per kapita negara-negara tersebut meroket jauh meninggalkan Indonesia.

Pendapatan per kapita Taiwan tercatat mencapai USD22.300, Korea Selatan USD27.200, China yang baru mulai membangun pada era 1980-an sudah mencapai USD8.000, Malaysia USD9.600 dan Thailand USD5.800. Pendapatan per kapita Indonesia kini baru mencapai USD3.400.

"Kita lumayan, tapi tidak luar biasa," ujarnya.

Mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu menuturkan kesalahan pengelolaan SDM dan SDA merupakan dua sebab utama tertinggalnya Indonesia.

"Negara yang tidak punya SDA, mereka fokus ke SDM. Akhirnya mereka ubah bangsanya jadi lebih maju, terampil. Kita ketinggalan. Makanya sekarang kita harus segera lakukan transformask dari tenaga kerja Indonesia menjadi tenaga professional Indonesia," jelasnya.

Masalah pengelolaan SDA, dinilai Rizal disebabkan oleh paradigma lama yang dianut Indonesia di mana konsepnya hanya tebang-ekspor atau sedot-ekspor.

"Paradigmanya, tebang hutan, lalu ekspor. Sedot tanah di Papua lalu ekspor. Tidak dibangun industri hilir sehingga nilai tambahnya sedikit," katanya.

Rizal meminta pandangan pengelolaan SDA seperti itu bisa diubah. Pasalnya, model pengelolaan SDA demikian hanya membuat pertumbuhan ekonomi yang rendah yakni hanya 5-7 persen dengan kualitas pertumbuhan yang juga rendah.

"Saya minta tolong, perlu perubahan paradigma pengelolaan SDM dari sekadar sedot ekspor, kita kembangkan nilai tambahnya," katanya menyinggung pengelolaan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Maluku. (kmj)

Baca Juga: 50 Tahun Berkarya, Indomie Konsisten Hidupkan Inspirasi Indomie untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini