nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Memasuki Era Smart City

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 18 Mei 2016 14:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 05 18 470 1391458 memasuki-era-smart-city-VeSr01MiCb.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Konsep smart city atau kota cerdas kini mulai diterapkan di berbagai kota besar di Indonesia. Konsep ini merupakan impian bagi kota-kota di Tanah Air karena diyakini bisa menyelesaikan berbagai masalah perkotaan seperti kemacetan, penumpukan sampah, dan keamanan warga kota.

Kehidupan perkotaan yang nyaman, aman, hijau, mudah, bersahabat, ramah anak, bermartabat, dan berbiaya rendah menjadi impian setiap orang. Impian itu bukan suatu yang tak mungkin untuk diwujudkan. Jalan menuju kota impian tersebut bisa terwujud apabila semua stakeholder kota memiliki kemauan kuat untuk berubah. (Baca juga: Kawasan Smart City Mulai Dikembangkan)

Berbagai konsep dan pendekatan telah diperkenalkan untuk mengatasi berbagai persoalan perkotaan, termasuk kota cerdas. Konsep ini dianggap sebagai solusi dalam mengatasi kemacetan yang merayap, sampah yang berserakan, ataupun pemantau kondisi lingkungan di suatu tempat. Perjalanan menuju konsep smart city ini juga sudah mulai berjalan pelan-pelan.

Dukungan aplikasi yang terus berkembang dan terciptanya ekosistem kreatif di bidang teknologi, merupakan langkah awal yang baik menuju kota cerdas. Konsep kota cerdas sendiri pertama kali dikemukakan oleh IBM, perusahaan komputer ternama di Amerika. Perusahaan tersebut memperkenalkan konsep kota cerdas untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.

Menurut Guru Besar STEI Institut Teknologi Bandung Suhono Harso Supangkat, ada beberapa hal yang menjadi syarat apabila sebuah kota ingin menjadi kota cerdas. Salah satunya, butuh akses broadband yang stabil dan luas. “Teknologi broadband adalah salah satu yang dibutuhkan untuk mewujudkan smart city dari sisi infrastruktur selain transportasi umum, air, energi, dan lingkungan hidup.

Faktor lainnya adalah kepemimpinan, komitmen, dan peran serta swasta, masyarakat, dan universitas,” paparnya. Dia menuturkan, proses pengukuran, mulai dari mengetahui hingga antisipasi atau adaptasi akan bisa cepat jika dibantu dengan teknologi informasi dan komunikasi. Prosesnya merupakan urutan sensing (mengukur), understanding (mengetahui), hingga controlling (pengendalian).

“Tinggal pasang sensor di kotanya, nanti laporan masuk secara real-time. Ini akan mempercepat pemimpin untuk mengambil keputusan. Nanti tinggal manfatkan cloud computing untuk penyimpanan dan analisis data,” sebutnya. Lebih lanjut diungkapkan Suhono, kendala untuk mewujudkan smart city sebenarnya ada pada pola pikir, pola tindak, dan budaya masyarakat kota.

“Kalau bicara masalah infrastruktur kan bisa kolaborasi swasta dan pemerintah. Bicara investasi untuk mewujudkan smart city akan sangat tergantung dari infrastruktur yang ada dan keinginan sampai di mana level kepuasan penduduk untuk nyaman, aman, dan sejahtera,” sebutnya.

Salah satu kota yang sudah mewujudkan kota pintar adalah Surabaya, Jawa Timur. Tri Rismaharini, wali kota Surabaya, mengatakan bahwa Surabaya sudah menerapkan konsep kota cerdas sejak tahun 2002. Bahkan menjadi pionir penerapan konsep itu di Indonesia. Menurut Risma, konsep e-government dan e-procurement sudah diterapkan di Kota Surabaya pada 14 tahun lalu. (Baca juga: Minat dan Inisiatif Smart City di Indonesia)

Dengan kemajemukan lokal yang ada di masyarakat Surabaya, hal ini diwujudkan dengan adanya tiga mode bahasa di aplikasi e-kiosk (Kios Pelayanan Publik) yang terdiri dari bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan Madura. Karena itu, warga semakin mudah dalam memahami cara kerja aplikasi yang terdapat di e-kiosk , di antaranya e-health (aplikasi layanan kesehatan) dan e-Lampid (aplikasi pengurusan data kelahiran, kematian, kepindahan & kedatangan), tentunya dengan mode bahasa yang mereka pahami.

Adapun Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan, POC ini dapat mempermudah pelayanan masyarakat seperti pengurusan perizinan, pelayanan kesehatan, pembayaran pajak, dan sebagainya. “Dengan konsep smart city, Kota Bekasi diharapkan jauh lebih maju, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” sebutnya.

Dia menyebutkan permasalahan yang menghambat pelayanan kepada masyarakat dapat diketahui di dalam ruang POC ini. Misalnya, pengajuan perizinan yang tidak kunjung selesai dalam periode yang sangat lama, segera dapat diketahui di ruang POC. Ruangan POC ini, Rahmat mengatakan, digunakan untuk mengakses dan memonitor informasi dari seluruh jajaran SKPD maupun permasalahan yang dihadapi masyarakat yang berkaitan dengan pelayanan publik.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini