nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertumbuhan Ekonomi 5,3%, Ini Daftar Asumsi Makro RAPBN 2016

Hendra Kusuma, Jurnalis · Kamis 02 Juni 2016 16:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 06 02 20 1404607 pertumbuhan-ekonomi-5-3-ini-daftar-asumsi-makro-rapbn-2016-uNHz1mFJUO.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyerahkan, asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2016. Adapun, penyesuaian asumsi dilakukan khususnya dengan semakin terjaganya inflasi dan menguatnya nilai tukar Rupiah.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2016 tetap dipatok 5,3 persen, Inflasi 4,0 persen, tingkat suku bunga SPN 3 bulan 5,5 persen, nilai tukar Rupiah Rp13.500 per USD.

Sedangkan harga minyak mentah dipatok USD35 per barel, lifting minyak sebesar 810 ribu barel per hari, dan lifting gas sebesar 1.115 ribu barel setara minyak per hari.

Jika dilihat dari APBN 2016, terdapat beberapa asumsi makro yang mengalami penurunan, seperti inflasi yang pada APBN 2016 sebesar 4,7 persen.

"Inflasi 4 persen karena kami melihat sampai Mei 0,4 persen YTD, dan 3,33 persen YoY," kata Bambang di Ruang Banggar DPR, Jakarta, Kamis (2/6/2016).

Selanjutnya, kata Bambang, nilai tukar awalnya Rp13.900 per USD menjadi Rp13.500 per USD. "Berarti Rupiah relatif menguat karena kami lihat pola Januari-Mei meski ada kenaikan Rupiah karena ada kemungkinan kenaikan Fed Rate pada Juni-Juli, sedangkan bunga SPN 3 bulan tetap 5,5 persen," tambahnya.

Untuk harga minyak mentah juga pada APBN 2016 sebesar USD50 menjadi USD35 per barel. Penetapan asumsi tersebut lantaran realisasi Indonesia Crude Price (ICP) pada April 2016 sebesar USD37,2 per barel, jika dirata-ratakan Januari hingga April maka menjadi USD31,95 per barel.

Untuk lifting minyak, kata Bambang, juga mengalami penurunan dari APBN 2016 yang sebesar 830 ribu barel per hari menjadi 810 barel per hari, begitu juga gak yang turun menjadi 1.115 barel setara minyak per hari dari APBN 2016 1.155 barel setara minyak per hari.

"Karena produksi diberbagai lapangan juga turun," tandasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini