Pengolahan Rumput Laut Jadi Prioritas

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 07 Juni 2016 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 07 320 1408162 pengolahan-rumput-laut-jadi-prioritas-PS8OYQBXaE.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pengolahan rumput laut telah menjadi salah satu industri prioritas bersama industri makanan olahan lainnya. Hal ini tidak lepas dari potensi Indonesia sebagai produsen rumput laut terbesar di dunia dengan produksi sebesar 240.000 ton per tahun pada tahun 2014.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, saat ini industri pengolahan rumput laut dalam negeri telah memproduksi kurang lebih 17.000 ton produk rumput olahan dari kapasitas terpasang sebesar 25.000 ton. Artinya, utilisasi kapasitas terpasangnya rata-rata masih sebesar 68 persen dengan produk utama karaginan dan agar.

”Utilisasi terus kita maksimalkan agar produksi meningkat dan pendapatan pengolah serta petani daya rumput laut lebih baik. Begitu juga dengan ekspor mengingat nilai ekspor produk rumput laut olahan pada 2015 sebesar USD45,2 juta,” ujarnya di Jakarta.

Dia memaparkan, nilai ekspor itu setara Rp610 miliar dengan merujuk nilai tukar rata-rata rupiah terhadap dolar AS pada tahun 2015 yang sekitar Rp13.500. Penjualan keluar negeri terdiri dari USD35,1 juta karaginan dan USD10,1 juta agar, sedangkan nilai impornya sebesar USD4,5 juta terdiri dari USD4,2 juta karaginan dan USD300.000 agar.

Saleh menambahkan, peningkatan kemampuan hilirisasi industri berbasis rumput laut diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri secara nasional sebagai penggerak perekonomian. Salah satu daerah penghasil rumput laut kering terbesar di Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Selatan.

Menurut dia, panjang garis pantai di Sulawesi Selatan mencapai 1.900 kilometer dan sampai saat ini yang dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut baru sekitar 568 kilometer, sehingga komoditas rumput laut di Sulawesi Selatan mempunyai potensi tinggi untuk dikembangkan, sekaligus untuk memberdayakan masyarakat pesisir.

Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto mengatakan, pada tahun 2015 Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan bantuan mesin peralatan aneka olahan rumput laut kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

”Tujuannya agar meningkatkan nilai tambah dari pengolahan rumput laut kering menjadi produk makanan siap konsumsi,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, bantuan mesin peralatan aneka olahan rumput laut dikelola oleh Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Kospermindo) yang merupakan koperasi yang bergerak dalam memperdayakan dan mengembangan budidaya rumput laut di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah sejak tahun 2002. Ketua Kospermindo Arman Arfah mengatakan, Kospermindo adalah satu-satunya koperasi di lingkungan KIMA.

Pihaknya berharap industri olahan rumput laut di Sulsel turut berkontribusi bagi industri makanan minuman dan ketahanan pangan nasional. ”Pengalaman kami membuktikan pengolahan rumput laut tidak identik dengan padat modal karena kami pun mampu menggarap industri ini,” ujarnya.

Menurut dia, sektor industri makanan dan minuman diakui strategis dan berkontribusi terhadap industri pengolahan non migas sebesar 31,51 persen, di mana industri pengolahan non migas berkontribusi sebesar 18,41 persen terhadap PDB Nasional.

Sedangkan nilai ekspor produk makanan dan minuman pada triwulan I-2016 mencapai USD2,37 miliar. Kemenperin mencatat, pada triwulan I-2016, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 7,55 persen lebih besar bila dibandingkan dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman pada tahun 2015 sebesar 7,54 persen.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini