Len Industri Garap Persinyalan Kereta di Malaysia dan Bangladesh

ant, Jurnalis · Rabu 08 Juni 2016 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 08 320 1409484 len-industri-garap-persinyalan-kereta-di-malaysia-dan-bangladesh-hNrYop0FRu.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)


BANDUNG - PT Len Industri (Persero) menggarap sejumlah proyek pembangunan urban transport di kota besar yang ada di dalam maupun di luar negeri.

"Perjuangan Len Industri memasuki pasar baru urban transport mulai membuahkan hasil. Kami dipercaya menggarap APMS Bandara Soekarno-Hatta, LRT serta di Bangladesh dan Malaysia," kata Direktur Utama PT Len Industri Abraham Mosse di Bandung.

Peluang pasar luar negeri di Malaysia dan Bangladesh juga cukup menjanjikan bagi perusahaan yang fokus pada sistem persinyalan kereta api itu sekaligus langkah awal Len dikenal di dunia internasional.

"Keikutsertaan dalam sistem urban transpor juga di Malaysia dan Bangladesh. Khusus di Bangladesh Len akan terlibat dalam melalukan modifikasi empat stasiun yang memiliki interlocking VPI dari kota Ishurdi hingga Joydipur," kata Abraham Mosse.

Abraham menyebutkan, untuk proyek automated people mover system (APMS) di Bandara Soekarno Hatta, Len mendapat kepercayaan dari Angkasa Pura II. Len dinyatakan menjadi perusahaan yang memenuhi seluruh persyaratan pelelangan, Penandatanganan kontrak senilai Rp531 miliar tengah disiapkan dengan deliviery time 345 hari.

Abraham Mosse menyebutkan, sistem ini akan menggunakan sistem sinyal modern tanpa awal atau juga dikenal dengan sistem CBTC diveless (communication bassed train control) dengan panjang lintasan 2.98 kilometer untuk melayanan lima terminal di Bandara Soekarno Hatta dengan operasi sebelum cek in.

"APMS akan menggunakan kereta 'automatic guide transport' (AGT) dengan sistem side guided yang merupakan salah satu jenis LRT," katanya.

Masing-masing akan beroperasi dengan tiga trainset dengan konfigurasi masing-masing dua cars dengan kapasitas 2.100 penumpang perjam per arah ytang akan berjalan di lintas layang yang dilengkapi jalur evakuasi.

"Projeck AMPS ini bisa menjadi pilot project untuk penerapan AMPS di bandara lainnya di Indonesia," katanya.

Pengerjaan dilakukan dengan model design and build melalui konsorsium berama perusahaan Korea Selatan, Woojin. Len sendiri akan fokus mengerjakan di sistem CBTC driveless, telekomunikasi dan kelistrikan.

Lebih lanjut ia menyebutkan, prospek bagus lainnya di bidang perkeretaapian, khususnya urban transport antara lain pembangunan LRT di Kota Palembang dengan menggunakan APBN. Len akan berkerja sama dengan PT Waskita Karya. Selain itu juga pihaknya bergabung dalam pembangunan LRT Ibukota Jakarta dan LRT Intercity Jakarta-Jabodetabek.

LRT Jakarta sepanjang 115 kilometer melewati tujuh koridor akan digarap BUMD Jakpro, Wika dan Len. Demikian halnya LRT Jakarta-Jabodetabek sepanjang 80 kilometer diharap PT Adikarya dan Len.

Lebih lanjut ia menyebutkan, dari ini kinerja perusahaan, PT Len Industri (Persero) pada tahun 2015 membukukan pendapatan Rp2,17 triliun atau melebihi tahun sebelumnya Rp2,1 triliun. Pada tahun 2016 mendargetkan pendapatan senilai Rp2,39 triliun.

"Lini bisnis transportasi perkeretaapian masih mendominasi, disusul bisnis elektronika pertahanan juga meningkat," katanya.

Ia juga menyebutkan, dari sisi pengembangan bisnis terjadi peningkatan pendapatan dari sejumlah proyek non APBN yang cukup signifikan terutama dalam pengembangna bisnis sektor energi terbarukan.

"Sebagian besar pendapatan masih dari sektor proyek APBN, namun dari sektor non APBN juga ada peningkatan. Hal itu sejalan dengan pengembangan bisnis yang dilakukan perusahaan khususunya di energi baru terbarukan dan ICT," kata Dirut PT Len Industri itu menambahkan.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini