nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Brexit, Harga Minyak Jatuh ke USD47/Barel

ant, Jurnalis · Sabtu 25 Juni 2016 09:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 06 25 320 1424998 brexit-harga-minyak-jatuh-ke-usd47-barel-2FxWe4BiTT.jpg Ilustrasi : Reuters

NEW YORK - Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) memicu aksi jual minyak besar-besaran pada Jumat (Sabtu pagi WIB). Hal ini membuat harga minyak mentah anjlok sekitar lima persen di tengah kekhawatiran pertumbuhan global dapat melambat lebih lanjut.

Para analis mengatakan investor minyak mentah juga beralih ke aset-aset yang lebih aman setelah pilihan Brexit atau keluar dari Uni Eropa mendorong volatilitas besar di seluruh pasar-pasar.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, jatuh USD2,47 menjadi berakhir di USD47,64 per barel di New York Mercantile Exchange.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus, patokan global, turun USD2,50 menjadi menetap pada USD48,41 per barel.

Harga minyak mentah merosot karena pilihan Brexit mendorong penghindaran risiko besar-besaran di kalangan investor di tengah melonjaknya kekhawatiran tentang dampak Brexit di Inggris dan ekonomi zona euro.

Kubu "Leave" Uni Eropa memenangkan referendum Brexit Inggris pada Jumat pagi, dengan mendapatkan hampir 52 persen suara, menarik negara itu keluar dari blok 28 negara Uni Eropa (UE) setelah menjadi anggota selama 43 tahun.

Pilihan Brexit mendorong tingkat baru ketidakpastian ke pasar, dengan para ekonom memperkirakan bahwa perpecahan akan memukul ekonomi Inggris secara signifikan, mungkin mendorongnya ke dalam resesi tahun depan, dan menyeret turun pertumbuhan Eropa secara keseluruhan.

"Resesi menyebabkan harga minyak rendah dan pecahnya Inggris dengan Uni Eropa menimbulkan kekhawatiran resesi di Eropa," kata James Williams dari WTRG Economics.

Selain itu, kata dia, proses pengaturan pemisahan akan berjalan panjang dan sulit.

"Setiap judul utama pada negosiasi untuk dua tahun ke depan memiliki potensi untuk menmggerakan pasar minyak," katanya.

Matt Smith dari ClipperData menunjukkan bahwa persediaan Saudi telah mengalami kontraksi lebih tajam dalam enam bulan terakhir daripada rekor kapanpun.

Di Amerika Serikat, jumlah rig pengeboran minyak aktif -- indikator produksi masa depan -- turun tujuh rig menjadi 337 rig setelah bertambah selama tiga minggu berturut-turut.

"Kami mulai melihat penurunan produksi minyak dunia dengan penurunan alami, kurangnya pengeboran baru dan perselisihan," kata Williams. "Dunia sedang membakar beberapa kelebihan persediaan yang telah dibangun, yang adalah konstruktif." Harga minyak juga mengalami tekanan dari dolar AS yang lebih kuat. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 1,78 persen menjadi 95,197 pada akhir perdagangan.

Para analis mengatakan kemungkinan penghindaran risiko yang lebih tinggi akan membuat sulit bagi harga minyak untuk mendapatkan kembali USD50 per barel dalam waktu dekat. (kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini