nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Brexit, IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global

Raisa Adila, Jurnalis · Rabu 20 Juli 2016 07:56 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 07 20 320 1442086 brexit-imf-pangkas-proyeksi-ekonomi-global-4XSK12XIKn.gif Ilustrasi : Okezone

WASHINGTON - Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global untuk dua tahun ke depan. Hal ini dipicu ketidakpastian atas keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Melansir Reuters, Rabu (20/7/2016), IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1 persen pada 2016 dan 3,4 persen pada 2017, keduanya 0,1 persen lebih rendah dari perkiraan pada April. Pemangkasan perkiraan World Economic Outlook ini sudah terjadi untuk kelima kalinya dalam 15 bulan.

Menurut IMF, meskipun perbaikan terjadi baru-baru ini di Jepang dan Eropa dan pemulihan parsial harga komoditas, namun Brexit menciptakan peningkatan yang cukup besar dalam ketidakpastian yang akan memengaruhi investasi dan pasar dan kepercayaan konsumen.

IMF mengatakan Inggris akan terkena dampak paling besar dari Brexit, di mana lembaga memangkas proyeksi 2016 pertumbuhan menjadi 1,7 persen, turun 0,2 persentase poin dari proyeksi April.

Sementara itu, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan zona euro untuk 2016, tapi memangkas prospek 2017 sebesar 0,2 poin menjadi 1,4 persen untuk 2017.

 [Baca juga: IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global]

Pihak IMF juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi China tahun ini menjadi 6,6 persen dari perkiraan April sebesar 6,5 persen, mengatakan bahwa prospek jangka pendek telah meningkat karena dukungan kebijakan baru-baru ini.

IMF merevisi prediksinya untuk pertumbuhan ekonomi AS pada 2016 turun menjadi 2,2 persen dari perkiraan April sebesar 2,4 persen, karena pertumbuhan yang lebih lemah dari perkiraan pada kuartal pertama.

Kepala ekonom IMF Maury Obstfeld mengatakan, selain kemungkinan penurunan terkait dengan ketidakpastian Brexit itu sendiri, ada risiko-risiko penurunan lainnya, termasuk krisis pengungsi di Eropa, pengangguran jangka panjang, kredit bermasalah, ketergantungan pada utang, dan risiko geopolitik.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini