Pefindo Revisi Prospek Len Industri Jadi Negatif

Danang Sugianto, Jurnalis · Kamis 21 Juli 2016 15:49 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 21 278 1443444 pefindo-revisi-prospek-len-industri-jadi-negatif-M4KY9JmuKQ.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) kembali menyematkan peringkat idBBB untuk PT Len Industri (Persero), terhadap  Medium Term Notes (MTN) II tahun 2015 Fase II,  III, dan IV serta MTN II tahun 2016.

Pefindo juga menetapkan kembali peringkat idBBB atas MTN II tahun 2015 Fase I sebesar Rp100 miliar yang akan jatuh tempo pada 2 Agustus 2016.

"Peringkat tersebut mencerminkan posisi bisnis perusahaan yang kuat di sektor sistem transportasi  perkeretaapian dan energi tenaga surya, profil diversifikasi yang baik, dan potensi permintaan yang lebih tinggi terkait dengan meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur," kata Analis Pefindo Yogie Surya Perdana dalam keterangan tertulis, Kamis (21/7/2016).

Perusahaan berencana untuk membayar MTN tersebut dengan menggunakan dana pemasukan dari proyek-proyek berjalan dengan proyeksi penerimaan sebesar Rp238,9 miliar.  

 

Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh struktur  permodalan yang agresif dalam jangka pendek dan  menengah, proteksi arus kas yang lemah, serta ketergantungan yang cukup tinggi terhadap anggaran belanja pemerintah. Di mana hal itu mengakibatkan volatilitas atas pendapatan di setiap lini bisnis perusahaan.

Atas dasar hal itu, Pefindo merevisi prospek perusahaan menjadi negatif dari stabil, untuk  mengantisipasi  pelemahan  atas  rasio keuangan perusahaan. "Khususnya pada struktur modal dan proteksi arus kas karena tingkat utang yang lebih tinggi dibandingkan dengan  proyeksi  tanpa disertai dengan  realisasi pendapatan  yang  lebih  tinggi," tambahnya.  

Menurut Yodie, peningkatan utang itu dibutuhkan perusahaan untuk membiayai  kebutuhan tambahan  modal kerja dalam menjalankan  proyek-proyek  pemerintah, yang mana pembayarannya  dilakukan  pada  akhir  tahun.

Selain  itu juga ada  potensi  keterlambatan  pada proyek-proyek  pemerintah  yang  dapat  menurunkan  realisasi  pendapatan  LEND,  mengingat  bahwa  lebih  dari  80 persen  porsi pendapatan berasal dari proyek-proyek terkait pemerintahan. (dng)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini