Bekraf Akui Monopoli di Industri Perfilman Indonesia

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Kamis 21 Juli 2016 16:57 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 21 320 1443535 bekraf-akui-monopoli-di-industri-perfilman-indonesia-IraExzzw6h.gif Ilustrasi : Okezone

JAKARTA - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengakui adanya monopoli di Industri Perfilman Indonesia. Perkembangan industri ini masih belum merata dan didominasi oleh pemain besar.

Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf Endah Wahyu Sulistianti menilai, modal asing dapat menjadi stimulus bagi sektor perfilman di Indonesia. Dia mencontohkan minat investasi investor asing yang masuk ke suatu lokasi.

”Itu dapat memangkas monopoli yang ada. Contohnya ada perusahaan Abu Dhabi ingin membuka bioskop di Ambon atau di Sukabumi ini akan membuat sektor perfilman lebih bergairah,” ungkapnya di Gedung BKPM, Kamis (21/7/2016).

[Baca juga: Bekraf Usulkan Sistem Penghitungan Tiket Bioskop Terintegrasi]

Namun dia menilai dikeluarkannya industri film dari Daftar Negatif Investasi (DNI), bisa kurangi monopoli bioskop di tanah air. Menurutnya, peluang asing masuk ke industri bisa membuat persaingan lebih sehat.

"Dengan dibukanya tax allowance ini praktik monopoli perfilman berkurang. Sekarang ada 1.113 bioskop dan terpusat di Jawa dan di Jabodetabek dan dikuasai perusahaan terbesar. Karena ada praktik monopoli yang tidak punya dana besar maka akan mati," tambahnya.

Masuknya investor asing diharapkan bisa mengurangi ketimpangan bioskop yang tersedia di Indonesia. Sementara itu, dari sisi produksi, industri perfilman kerap dihadapkan pada masalah pendanaan.

"Salah satu alasan produser Indonesia adalah kesulitan modal dalam produksi. Satu produksi film saja bisa habiskan dana Rp3 miliar dan belum tentu filmnya ditayangkan di bioskop seluruhnya. Gimana mau tumbuh?" cetusnya.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini