Share

TERPOPULER: Perusahaan Vaksin China Sasar Indonesia

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 25 Juli 2016 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 25 320 1446300 terpopuler-perusahaan-vaksin-china-sasar-indonesia-YMEldPPFvZ.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

BOGOR – PT Biotis Prima Agrisindo (BPA) menginvestasikan USD100 juta untuk membangun pabrik vaksin hewan unggas guna memenuhi kebutuhan pasar ASEAN.

PTBPA merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) kolaborasi antara Pharmally International Holding Company Ltd dan Harbin Weike Biotechnology Company asal China. Perseroan menargetkan pembangunan pabrik seluas 45.000 meter persegi rampung pada kuartal III/2017 dan proses produksi mulai kuartal IV/2017. Kapasitas produksi vaksin tahap awal diperkirakan 8 miliar ampul per tahun.

Chairman Pharmally International Tony Huang mengatakan, pada tahap pertama perusahaan akan memenuhi kebutuhan pasar ASEAN, terutama Indonesia, dengan produk vaksin flu burung dan Newcastle Disease. Selanjutnya perseroan akan mengembangkan produk vaksin hewan lainnya dan ekspansi ke pasar mancanegara, seperti Amerika Tengah dan Selatan, Timur Tengah, Rusia.

”Proyek ini akan mempercepat Pharmally International untuk go internasional mulai pengembangan pasar di China hingga ke Indonesia dan ASEAN,” ujar Huang saat peletakan batu pertama pembangunan pabrik vaksin PT BPA di Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Dalam investasi ini, Pharmally International mendominasi kepemilikan saham 69 persen, Harbin Weike 10 persen, sisanya 21 persen dimiliki mitra strategis di Indonesia dan Taiwan. Untuk Tahap I investasi sebesar USD50 juta digunakan untuk pembelian tanah, pembangunan pabrik, mesin produksi, peralatan riset, dan dana pra-operasional.

PT BPA akan mendirikan pabrik yang ramah lingkungan sesuai standar GMP Eropa dan akan memproduksi vaksin hewan berkualitas. Mereka juga berjanji mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal dan melakukan transfer teknologi.

”Saat ini sudah ada 200 pekerja lokal dan 10 tenaga asing. Secara bertahap, tenaga lokal akan ditambah dan tenaga asing dikurangi, kecuali divisi litbang dan Quality Control masih diisi tenaga ahli dari China,” ucapnya. Langkah China memproduksi vaksin hewan di Indonesia karena melihat tingginya tingkat konsumsi daging ayam di Indonesia sehingga kebutuhan vaksin flu burung cukup besar.

Namun, sejak 2012 Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan vaksin inaktif flu burung hanya boleh diproduksi menggunakan strain virus dari Indonesia dan akan diproduksi serta dijual di dalam negeri. Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Kementerian Pertanian Enuh mengatakan, pabrik PT BPA akan menjadi pabrik vaksin keenam di Indonesia yang diharapkan bisa membantu mencukupi kebutuhan industri peternakan di Indonesia.

Enuh berharap PT BPA tidak hanya memproduksi vaksin unggas tapi juga vaksin untuk ruminansia seperti sapi yang belum banyak berkembang di Indonesia. ”Semoga kehadiran PT BPA menambah geliat usaha peternakan Indonesia dan harga vaksin bisa bersaing di ASEAN,” ujarnya.

Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Asosiasi Obat Hewan Indonesia Andi Wijanarko mengatakan, sebelum vaksin impor dilarang, harga vaksin flu burung sekitar Rp260 per dosis. Setelah impor dilarang pada 2012, harga vaksin merangkak naik hingga saat ini Rp500 per dosis atau Rp500.000 per botol. Pengusaha ternak menyebut harga itu cukup mahal, apalagi vaksinasi harus diulang lima kali.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini