nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Industri Alas Kaki Dalam Negeri Turun 30%

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 12 Agustus 2016 10:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 08 12 320 1461733 industri-alas-kaki-dalam-negeri-turun-30-irehfQY5i0.gif Ilustrasi : Okezone

SURABAYA - Penjualan sepatu dan alas kaki di Jawa Timur (Jatim) pada semester I tahun ini mengalami penurunan hingga 30 persen. Penurunan itu akibat masih belum membaiknya kondisi ekonomi, baik nasional maupun global, ditambah persaingan bisnis pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sangat ketat, terutama dengan Vietnam.

Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jatim Winyoto Gunawan mengatakan, untuk penjualan pasar ekspor, turun 10 persen. Melihat kondisi kinerja tersebut, pelaku industri ini pesimistis terhadap kinerja pada semester II tahun ini. Pihaknya meyakini, pada semester II ini belum bisa tumbuh positif, justru cenderung stagnan.

Meski pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan berupa pengampunan pajak atau tax amnesty, pengusaha saat ini membutuhkan kebijakan tentang pajak pertambahan nilai (PPN) final. “Pengampunan pajak sangat bagus, tapi perlu ada payung hukum. Kami sangat butuh kebijakan PPN final sebab sampai sekarang itu, tokotoko grosir khusus yang menjual sepatu merasa bingung kalau dapat PPN dari produsen.

Kebijakan ini harus segera diputuskan,” katanya. Winyoto menambahkan, perkiraan kenaikan permintaan saat Lebaran dan masuk sekolah meleset. Pada tahun-tahun sebelumnya, ada kenaikan bisa sampai dua kali lipat. Tapi ternyata tahun ini tidak, padahal sudah memasuki Ramadan. Dia juga menambahkan, industri ini kehilangan momen kenaikan penjualan disebabkan momen Lebaran dan masuk sekolah cukup berdekatan.

Jika konsumen sudah membeli sepatu untuk Lebaran, mereka cenderung tidak akan membeli sepatu lagi saat masuk sekolah. Selain penjualan domestik, pihaknya juga mengeluhkan adanya penurunan ekspor.

“Alas kaki Indonesia kalah bersaing harga dengan Vietnam. Bea masuk impor dari Vietnam telah 0 persen. Sementara bea masuk impor dari Indonesia masih dikenakan tarif 5 hingga 20 persen,” keluhnya.

Lebih jauh Winyoto menjelaskan, saat ini rata-rata produsen alas kaki telah mengurangi jam kerja dari tiga shift menjadi dua shift. Sementara total pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri alas kaki di Jatim, hingga Maret sebanyak 2.000 orang.

Sampai saat ini masih belum ada PHK lagi karena produsen masih berharap ada kenaikan permintaan domestik serta ekspor. Diketahui, pada 2015, total ekspor alas kaki Indonesia mencapai USD4,5 miliar. Amerika Serikat dan Eropa berkontribusi cukup besar terhadap ekspor alas kaki.

“Selain dengan Vietnam, Indonesia juga harus bersaing memperebutkan pasar Eropa Barat dengan negara-negara pengekspor alas kaki dari Eropa Timur,” ujarnya. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan tahun ini industri tekstil dan produk tekstil, termasuk di dalamnya alas kaki dan sepatu tumbuh 6,33 persen dan berkontribusi sebesar 2,43 persen terhadap product domestic bruto (PDB) Nasional.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini