nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Runtuhnya Dinasti Premium

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 15 Agustus 2016 11:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 08 15 320 1463830 runtuhnya-dinasti-premium-tHWroxyJ6C.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

SURABAYA - Perjalanan panjang bahan bakar premium di Indonesia seperti sebuah dinasti yang tak bisa tumbang. BBM dengan RON 88 itu sudah lekat dengan masyarakat miskin yang harus terus disubsidi. Orang kaya pun tak segan terus mencicipi meskipun ada pilihan lain.

Sejarah mencatat ketika harga premium dinaikkan, maka gejolak di tingkat bawah langsung bergemuruh. Aksi demonstrasi mahasiswa, pemogokan sopir angkot, penyanderaan truk BBM, sampai pemblokiran jalan.

Semuanya selalu bermuara pada hilangnya stabilitas ekonomi akibat kenaikan harga premium. Shobirin, nelayan di Kenjeran masih duduk di gardu depan balai RW.

Senja baru saja pergi. Laut yang terlihat jelas dari tempatnya duduk sudah lebih bersahaja. Ombak sedang bagus-bagusnya untuk mencari ikan. Di depannya sebuah jiriken berisi pertalite sudah siap dibawa ke kapal. Sudah empat bulan terakhir ini ia dan beberapa nelayan lainnya di Kenjeran beralih menggunakan pertalite untuk mesin kapalnya. Bahan bakar baru yang baginya lebih hemat dan tak membuat mesin kapal cepat rusak.

“Kalau dihitunghitung lebih irit kok, padahal bedanya cuma Rp350,” katanya.

Ia dan nelayan lainnya memang sudah puluhan tahun memakai premium ketika melaut. Tiap tahun juga ada biaya perbaikan mesin kapal. Itu pun harus merogoh kocek mahal memperbaikinya. Ada sisa-sisa kerak yang selalu ditinggalkan oleh premium. Setelah dihitung kembali, para nelayan pun sepakat mengganti premium dengan pertalite. Ketika selesai berlayar, semua pengeluaran bahan bakar dihitung.

“Tetap lebih irit pakai pertalite, meskipun bukan yang disubsidi tapi nyatanya lebih irit dan hemat buat kami,” katanya.

Dinasti premium yang sudah terbentuk puluhan tahun di Indonesia itu kini mulai tumbang. Premium tak lagi digdaya seperti zaman keemasannya selalu dibela dan dipertahankan mati-matian untuk memperoleh harga yang murah. Masyarakat dulu tak begitu peduli terhadap kandungan premium, tapi yang penting harganya terjangkau.

Antrean panjang sampai 10 KM mudah dijumpai ketika harga premium mau naik. Di beberapa daerah di luar Jawa terkadang harganya bisa sampai 10 kali lipat. Kini kejayaan dinasti premium itu benar-benar tumbang. Pertalite, anak emas baru yang dikeluarkan Pertamina, berhasil merebut simpati masyarakat. Dengan RON 90, pertalite hadir sebagai jalan tengah yang bijak mengatasi ketergantungan masyarakat pada premium. Pembengkakan subsidi di APBN pun bisa diselamatkan.

Tak butuh waktu lama, belum genap setahun diluncurkan, pertalite mampu mengilas dinasti premium yang sudah lama menguasai pasar. Saat ini yang terjadi di SPBU adalah antrean panjang masyarakat membeli pertalite.

Sementara premium sudah tak lagi diminati. Bahkan, angkutan kota, bus, serta kendaraan yang dipakai untuk transportasi massal, sudah beralih memakai pertalite tanpa harus dipaksa pemerintah. Lihat saja perubahannya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar Rp56 triliun.

Anggaran yang diusulkan kepada parlemen ini jauh lebih rendah dari anggaran subsidi BBM dalam APBN 2015 sebesar Rp276 triliun. Ada penghematan APBN dalam jumlah sangat besar. Subsidi BBM yang tadi Rp276 triliun di APBN 2015, tapi dalam APBN-P 2015 menjadi Rp81 triliun. Itu sudah termasuk membayar utang pada Pertamina Rp25 triliun untuk carryiver tahun sebelumnya.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang menuturkan, kesadaran masyarakat mengonsumsi BBM nonsubsidi semakin tinggi. Hampir semua BBM nonsubsidi, seperti pertalite, pertamax, bahkan solar nonsubsidi, konsumsinya terus meningkat. “Itu bagus dan bisa mengurangi beban subsidi negara di APBN,” katanya.

Seperti mendapatkan angin segar pada pagi hari, pertalite yang tak diprediksi bisa secepat kilat mengambil posisi premium di hati masyarakat dan terus mengalami peningkatan.

Di tengah permintaan pertalite yang menggila, Pertamina siap melayani permintaan konsumen di Indonesia. Apalagi produksi pertamax dan pertalite makin tinggi seiring dengan beroperasinya TPPI Tuban dan Kilang Langit Biru Cilacap serta Kilang Balongan Jawa Barat. Ia pun yakin dan memperkirakan akan terjadi penurunan impor premium saat pertalite terus diminati masyarakat.

Pasalnya, masyarakat yang mengonsumsi premium akan beralih menggunakan pertalite. Indonesia masih mengimpor premium karena saat ini kapasitas fasilitas pengelolaan minyak mentah (kilang) yang dimiliki hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan BBM, khususnya Premium. Sedangkan 60 persen dipasok dari luar negeri atau 10 juta barel per bulan.

Ia menjelaskan, bahan baku pertalite terdiri dari produk kilang yang tidak bermanfaat, yakni naphtha dengan kadar Research Octane Number (RON) 70 dicapur High Octane Mogas Component (HOMC) RON 92. “Dengan ada pertalite, maka impor berkurang karena pertalite naphtha dan HOMC, naptha akan diblending (campur) dengan HOMC,” ungkap Ahmad.

Strategi Harga dan Ramah Lingkungan

Pertalite memiliki RON 90 lebih tinggi dari premium RON 88 merupakan hasil aksi korporasi Pertamina yang disukai masyarakat. Aksi dan kebijakan korporasi Pertamina yang bukan hanya menghadirkan pertalite sebagai alternatif BBM premium, tetapi juga menghadirkan BBM dexlite sebagai alternatif BBM solar bersubsidi.

“Melihat keberhasilan pertalite kami juga akan menerapkan strategi yang sama untuk menjual dexlite,” ungkapnya.

Pertalite jelas lebih ramah lingkungan daripada premium. Emisi karbon pertalite tercatat sebesar 3,5 miligram per kilometer. Adapun emisi karbon premium mencapai 4,42 mg per km, sedangkan pertamax sebesar 2,67 mg per km. Rendahnya emisi karbon pertalite ini, menurut Ahmad, karena bahan baku pembuatnya sama dengan bahan baku untuk pertamax.

Ada tiga komponen yang digunakan membuat pertalite, yakni HOMC, naptha, dan zat ecosave. Karena menggunakan bahan baku yang sama dengan pertamax itulah, maka prtalite memiliki nilai oktan tinggi. “Ini jelas cocok untuk mesin. Buat kendaraan bermotor lebih bagus karena pembakarannya lebih sempurna dan membersihkan mesin,” katanya.

Zat ecosave yang digunakan pada pertalite merupakan formula aditif buatan Pertamina. Zat ini mengandung sejumlah formula, seperti detergency yang berfungsi membersihkan bagian dalam mesin, corrotion inhibitor atau pelindung karat, dan demulsifier untuk menjaga kemurnian bahan bakar.

Seperti dikutip dari situs Pertamina, zat aditif ini bisa menghemat penggunaan bahan bakar sebesar 2-3 persen. Penjualan Pertalite di berbagai daerah juga melebihi target. Di Jatim Balinus misalnya, layanan pertalite yang dulu hanya ada di 33 SPBU kini naik menjadi 867 SPBU.

Target penjualan pun naik drastis dari target awal hanya 3,5 kiloliter (kl) sudah mencapai 6 kl per SPBU. General Manajer Pertamina MOR V Ageng Giriyono menuturkan, dalam semester I tahun 2016, penjualan pertalite sudah 49,5 persen.

Sementara target itu seharusnya untuk satu tahun, tapi hanya enam bulan sudah terpenuhi targetnya. Perkembangan pertalite memang berjalan cepat. Masyarakat juga menerima bahan bakar ramah lingkungan dengan baik.

Peminat pertalite pun tak hanya berada di kota. Daerahdaerah terpencil yang ada di Jawa juga mulai beralih dari premium ke pertalite. Bahkan, pulau-pulau kecil yang sulit terjangkau juga memilih pertalite daripada premium. “Pasokan ke pulau-pulau kecil juga diberikan. Mereka menyadari kalau pertalite lebih irit dan membuat mesin awet,” katanya.

Di Ngimbang, Lamongan misalnya, daerah terpencil yang berbatasan dengan Jombang dan Lamongan itu hanya ada pertalite. Dulu SPBU yang ada di sana banyak didominasi premium, tapi kini dominasi itu pun sudah bergeser ke pertalite. Demikian juga di Pulau Bawean. Pulau kecil yang menjadi bagian dari Kabupaten Gresik itu mengalami perubahan pilihan masyarakat pada BBM. Deretan penjual BBM yang ada di pinggir jalan dikuasai oleh pertalite. Padahal dulu nelayan maupun pedagang di sana begitu mengantungkan diri pada premium.

Retail Fuel Manager Pertamina MOR V Made Adi Putra mengatakan, selain lebih ramah lingkungan, pertalite juga menang dalam selisih harga dengan premium. Kondisi harga yang tak terlalu jauh menjadi salah satu faktor keberhasilan penjualan pertalite. Masyarakat juga sadar tentang keunggulan pertalite dengan cepat.

Sementara Ketua DPD V Hiswana Migas Rahmat Muhammadiyah menuturkan, sejak diluncurkan di 33 SPBU, produk dengan RON 90 ini mendapat dukungan penuh dari para pengusaha SPBU. Pertalite ini telah berkembang menjadi 867 SPBU dengan jumlah konsumsi rata-rata harian pertalite mencapai 5.124 kl.

Hiswana selaku organisasi yang mendukung penuh pemasaran produk dan menaungi para pengusaha SPBU produk Pertalite semenjak pertama diluncurkan setahun yang lalu, yakin akan keunggulan saat pertalite bisa memikat konsumen.

“Sebagai pilihan produk berkualitas, kami yakin pertalite akan memiliki banyak peminat. Saat ini terbukti keyakinan dengan penjualan pertalite yang menggembirakan di SPBU,” kata Rahmat.

Pertalite sesuai digunakan kendaraan bermotor roda dua hingga kendaraan multy purpose vehicle ukuran menengah yang menghendaki bahan bakar dengan tarikan mesin yang enteng.

Harga dengan tarif terjangkau dan kendaraan melaju lebih jauh. Penjualan premium yang terus anjlok membuat pengusaha SPBU memilih tak membuka layanan. Mereka memilih memaksimalkan penjualan pertalite yang saat ini sedang naik daun.

Di SPBU Ketintang misalnya, para petugas yang ada di sana hanya memberikan layanan pertalite dan pertamax. Tidak ada tulisan premium ketika memasuki SPBU yang dekat dengan pemukiman warga di kawasan Surabaya Selatan itu. Di Jatim saat ini ada 84 atau sekitar 10 persen dari total SPBU yang tak lagi melayani premium.

Jumlah SPBU di Jatim saat ini mencapai 843. Jumlah SPBU yang mau menutup layanan premium bisa saja bertambah seiring dengan populernya pertalite di kalangan masyarakat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini