10 Sektor Industri Diusulkan Dapat Gas Murah

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 18 Agustus 2016 10:41 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 18 320 1466575 10-sektor-industri-diusulkan-dapat-gas-murah-ZiYIVYcgTG.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan perubahan Peraturan Menteri ESDM No 16 tahun 2016 tentang Tata Cara Penetapan Harga dan Pengguna Gas Bumi Tertentu.

Alokasi gas murah yang semula untuk tujuh sektor, diusulkan ditambah menjadi 10 sektor industri. Kesepuluh sektor industri tersebut adalah industri pupuk, industri petrokimia, industri oleokimia, industri baja/ logam lainnya, industri keramik, industri kaca, industri ban dan sarung tangan karet, industri bubur kertas (pulp ) dan kertas, industri makanan dan minuman, serta industri tekstil dan alas kaki.

”Tambahan sektor itu akan dibahas lagi oleh tim khusus. Harga yang kompetitif terus dikaji,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya.

Airlangga mengatakan, apabila penurunan harga gas untuk industri dapat dilakukan, maka akan memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang positif pada perekonomian nasional. Sebab, pertumbuhan industri akan mendorong penyerapan tenaga kerja dan penghematan devisa.

”Untuk itu, kami mengusulkan penurunan harga gas untuk industri dan menambah sektor industri yang mendapatkan penetapan harga gas tertentu. Ini sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing industri nasional,” ungkapnya.

Menurut Airlangga, penggunaan gas di sektor industri berkontribusi cukup signifikan terhadap struktur biaya produksi. Jika harga gas untuk industri bisa diturunkan, maka biaya produksi otomatis dapat ditekan.

Airlangga melanjutkan, harga gas yang diinginkan oleh sektor industri diharapkan dapat kompetitif dengan mengacu pada harga gas di negara- negara lain, terutama di kawasan ASEAN.

”Harga gas yang diinginkan sektor industri berdasarkan nilai keekonomian seyogianya sekitar USD3-4 per million metric british thermal unit (MMBTU). Dengan begitu, industri bisa bersaing,” ujarnya.

Berdasarkan data Kemenperin, rata-rata harga gas untuk sektor industri masih tinggi, yakni sebesar USD9,5 per MMBTU. Misalnya, industri pupuk dan industri petrokimia dikenakan harga gas sebesar USD6,28-16,7 per MMBTU.

Padahal di sektor tersebut, gas merupakan komponen utama dalam struktur biaya produksi yang persentasenya mencapai 70 persen. Demikian pula dengan industri tekstil, bubur kertas dan kertas, dengan harga gas USD9,15-16 per MMBTU.

Airlangga mengatakan, apabila harga gas bumi dapat diturunkan menjadi USD3,8 per MMBTU, akan menurunkan penerimaan negara sebesar Rp48,92 triliun. Meski demikian, penurunan harga gas bumi bakal meningkatkan penerimaan berbagai pajak dari industri turunannya sebesar Rp77,85 triliun.

Dalam rangka meningkatkan nilai tambah pada sektor industri, lanjut Airlangga, alokasi gas hendaknya diutamakan untuk kebutuhan dalam negeri dan sisanya dapat diekspor. ”Persentase gas yang diekspor sebesar 40,55 persen hendaknya secara bertahap dapat dialokasikan untuk industri dalam negeri,” tegasnya.

Sementara, Dirjen Industri Agro Panggah Susanto menegaskan, kesepuluh industri yang diusulkan tersebut merupakan sektor yang memiliki konsumsi tertinggi terhadap kebutuhan gas untuk energi dan bahan baku dalam proses produksinya.

”Kalau harga gas dapat ditekan, kami optimistis industri akan cepat berkembang,” ujarnya.

Panggah juga mengatakan, tim khusus pembahasan harga gas industri ini akan bergerak cepat untuk menentukan harga tepatnya. Kebijakan penurunan harga gas merupakan salah satu dari poin dalam paket kebijakan ekonomi III.

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, harga gas bumi untuk sektor tertentu bisa diturunkan asalkan memenuhi dua syarat, yaitu tidak dapat memenuhi keekonomian industri pengguna gas bumi, serta harga gas bumi lebih tinggi dari USD6 per MMBTU.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini