nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pria Digaji Lebih Tinggi Dibanding Wanita

ant, Jurnalis · Selasa 23 Agustus 2016 18:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 08 23 320 1471274 pria-digaji-lebih-tinggi-dibanding-wanita-cvqLL3Rbhw.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Ketimpangan sistem penggajian antara laki-laki dan perempuan di Australia telah terjadi secara menahun sehingga pekerja pria rata-rata digaji 20 persen lebih tinggi daripada pekerja perempuan.

Laporan ini dirilis oleh Konsil Serikat Pekerja Australia (ACTU) dan dikutip oleh jaringan berita ABC, Selasa (23/8/2016).

Seorang pemerhati isu tenaga kerja Australia, Conrad Liveris, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan akuntansi besar, seperti PriceWaterHouse Coopers, EY, dan Deloitte, menggaji perempuan 1 hingga 5 persen lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang sama.

"Bahkan, untuk posisi atas, selisihnya mencapai 5 persen," tambah dia.

Mengutip laporan Biro Statistik Australia (ABS) yang mengungkap perbedaan besaran pendapatan pekerja di Australia berdasarkan gender, diketahui bahwa pekerja pria rerata digaji 20 persen lebih banyak daripada perempuan, dan sektor layanan kesehatan adalah sektor yang paling besar selisihnya.

"Kita melihat perbedaan gaji berdasarkan gender hampir 500 dolar seminggu," kata Liveris, "Dan menariknya, sektor kesehatan 80 persen pekerjanya adalah perempuan." Masih menurut data ACTU, ketimpangan upah antara pekerja perempuan dan laki-laki makin memburuk. Pada tahun 2004, misalnya, tercatat sebesar 15 persen, kemudian pada tahun 2015 mencapai titik puncak, selanjutnya sedikit berkurang pada tahun 2016.

Di Indeks Ketimpangan Upah Global, posisi Australia ada di urutan 15 besar dunia pada tahun 2006, lalu merosot ke posisi 36 pada tahun 2015 sehingga Australia berada di bawah Rwanda (6) dan Mozambique (27).

Lantas apakah yang membuat perempuan Australia digaji lebih murah daripada pria? Liveris menunjuk akar masalah terletak pada pola berpikir dunia kerja yang melihat hasil kerja perempuan tidak setara nilainya dengan hasil kerja pria.

"Kita tidak menghargai mereka (pria dan perempuan) secara sama dengan upah yang sama," ujar dia yang menyoroti pula diskriminasi seksual terhadap aplikasi pekerjaan.

Ia melanjutkan, "Seolah-olah kandidat yang maskulin selalu lebih diminati daripada kandidat feminin." Indonesia Performa Indonesia dalam Indeks Ketimpangan Gender pada tahun 2015 juga menujukkan tren memburuk, dengan skor 0,681 (angka maksimal adalah 1) Indonesia duduk di peringkat 92 dari total 142 negara yang disurvei. Padahal, pada tahun 2006, dengan total skor 0,654, Indonesia berada di posisi 68 dari 115 negara di dunia.

Dari empat aspek yang dievaluasi; ekonomi, politik, pendidikan, dan kesehatan, terlihat kesetaraan gender di bidang kesehatan dan pendidikan sudah tercapai, bahkan perempuan melampaui jumlah pria di sekolah dasar dan perguruan tinggi. Perempuan Indonesia juga memiliki angka harapan hidup lebih tinggi daripada pria.

Namun, untuk keterlibatan perempuan di sektor ekonomi, tampaknya pendapatan perempuan hanya separuh dari laki-laki dengan rerata upah perempuan hanya 65 persen dari gaji yang diterima pekerja pria.

Pekerja perempuan yang menduduki jabatan sebagai anggota parlemen, pejabat senior, dan manajer hanya sepertiganya jumlah laki-laki. Pada kenyataannya, perempuan hanya mengisi 35 persen pasar kerja formal karena 65 persen pekerjaan formal diisi oleh pria. Sementara itu, di sektor pekerjaan informal, sebanyak 41 persen dikerjakan oleh perempuan dan sisanya sebanyak 59 persen dikerjakan oleh pria (BPS, 2013).

Pekerjaan rentan lebih banyak dilakukan oleh perempuan (46,6 persen) dibandingkan oleh laki-laki (24 persen), diperparah lagi 45,6 persen perempuan yang bekerja sebagai pekerja tetap menerima upah rendah. Kondisi ini sangat timpang karena hanya 27,2 persen laki-laki yang menerima upah rendah (Antara, 2015).

Menurut laporan ILO (2013), perempuan mengalami tiga diskriminasi ketika berpartisipasi ke angkatan kerja. Pertama, data menunjukkan hampir separuh perempuan Indonesia berusia 15 tahun ke atas tidak aktif secara ekonomi, sedangkan di kalangan pria kategori ini hanya dialami oleh 22,3 persen. "Tidak aktif secara ekonomi" di sini bisa diterjemahkan dengan kondisi perempuan yang tidak terlibat dalam pekerjaan yang menghasilkan uang alias tidak bergaji.

Kedua, ketika perempuan masuk ke angkatan kerja, mereka menemui hambatan yang lebih banyak dibandingkan pria ketika ingin mempertahankan pekerjaan mereka. Pekerja perempuan berhadapan dengan pergulatan dilema bekerja versus mengurus rumah tangga (baca: merawat anak dan urusan domestik lainnya) dan fleksibilitas jam kerja.

Hal ketiga yang sangat timpang antara pekerja pria dan pekerja perempuan adalah diskriminasi upah/gaji. Di sektor pertanian, rerata upah perempuan adalah 61,07 persen upah pekerja pria, sementara di sektor nonpertanian pekerja perempuan menerima 77,74 persen bayaran yang diterima oleh pekerja pria untuk pekerjaan dan kualifikasi yang sama.

Negara yang meraih posisi teratas di peringkat yang disusun World Economic Forum (WEF) ini adalah Islandia, yang mengantongi skor 0,881.

Perempuan di Islandia menerima rerata gaji 77 persen dari gaji yang diterima pekerja pria untuk tugas dan posisi yang sama.

Namun, jumlah perempuan di jabatan profesional dan sektor teknikal jauh melampaui pekerja pria, dengan rasio 1,33. Setiap 60 mahasiswa di universitas, terdapat 103 orang mahasiswi, membuat rasio gender 1,72 untuk perempuan dibanding laki-laki.

Demikian pula, dengan angka harapan hidup perempuan yang lebih lama daripada pria. Rerata perempuan Islandia hidup hingga usia 73 tahun, sementara prianya 71 tahun.

Dalam 50 tahun terakhir, Islandia telah dipimpin oleh kepala negara perempuan selama 20 tahun.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini