nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PLTN Opsi Realistis Energi Nasional

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 02 September 2016 12:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 09 02 320 1479466 pltn-opsi-realistis-energi-nasional-ReGAm2x8ug.jpg Ilustrasi: Reuters

YOGYAKARTA - Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia akan menghadapi krisis energi. Karenanya, upaya menggali energi baru terbarukan (EBT) perlu segera dilakukan guna pemenuhan kebutuhan energi masa depan.

“Dalam situasi sekarang ini, EBT memang sudah harus memberikan kontribusi signifikan. Namun jika hanya mengandalkan energi terbarukan saja, cukup sulit mencapai target 23 persen EBT pada 2025. Sehingga perlu pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebagai opsi realistis memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa depan,” kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Prof Dr Ir Djarot Sulistio Wisnubroto dalam pidato ilmiahnya dalam rangka Dies Natalis ke-52 FMIPA UNY.

Djarot mengatakan, secara prinsip, energi terbarukan harus diupayakan sebesar-besarnya. Sayangnya, upaya pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih sana saja dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu. Padahal, pemanfaatan energi nuklir di Indonesia akan jauh lebih mudah jika pemerintah mau bersungguh-sungguh mengupayakan pemanfaatan energi terbarukan.

“Tantangan utama program PLTN di Indonesia adalah kesangsian sebagian masyarakat terhadap kemampuan kita dalam mengelola teknologi berisiko seperti nuklir. Risiko memang besar tapi bukan berarti tidak bisa diantisipasi atau dihindari. Karena, jika kita masih berkutat di kesangsian keamanan, ini justru semakin membuat negeri ini dalam posisi sulit mencari solusi berkurangnya cadangan energi fosil,” urai Djarot.

Menurut Djarot, sampai saat ini dalam roadmap persiapan pembangunan PLTN, telah tersedia infrastruktur dasar dan sumber daya manusia (SDM) yang mencukupi. Berbagai daerah pun terbukti semakin banyak yang berminat akan pengembangan PLTN. Hal tersebut telah cukup menjadi modal awal bagi pemerintah pusat untuk berkomitmen go nuclear.

“Sosialisasi tentu harus tetap dilanjutkan. Ini semua tentu butuh komitmen pemerintah dan dukungan masyarakat luas. Bagaimanapun energi sudah menjadi kebutuhan mendasar di belahan dunia manapun, termasuk Indonesia,” kata Djarot.

Sementara itu, Dekan FMIPA UNY Dr Hartono mengatakan, pihaknya sejak dulu berkomitmen mencetak lulusan yang unggul dan profesional. Dari para lulusan itu pula dia berharap semakin banyak SDM berkompeten yang mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

“Contohnya saja di bidang energi. Indonesia tentu butuh lebih banyak lagi SDM berkualitas di bidang energi untuk mencarikan solusi terbaik dari ancaman krisis energi,” kata Hartono.

Bagi Hartono, keberadaan FMIPA UNY tentu dapat mendorong pengembangan ilmuilmu dasar dan penelitian yang berkaitan dengan energi.

(dni.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini