nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

S&P Ancam Turunkan Peringkat karena Drug War, Presiden Filipina Pidato Pedas

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Rabu 28 September 2016 00:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 09 27 320 1499886 s-p-ancam-turunkan-peringkat-karena-drug-war-presiden-filipina-pidato-pedas-GoEneDHUtt.jpg Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengecam lembaga pemeringkat kredit Standard and Poor`s (S&P), setelah lembaga tersebut memperingatkan bahwa banyak kebijakan yang tidak terlaksana di bawah kepemimpinannya dan bisa berakibat diturunkannya rating kredit negara tersebut.

Dalam sebuah pernyataannya, S&P menilai kebijakan Duterte untuk meningkatkan hukum dan ketertiban umum, mengakibatkan banyak pembunuhan di luar hukum dan dapat merusak supremasi hukum serta hak asasi manusia.

Perang melawan Narkoba di Filipina, telah menewaskan setidaknya 3.500 orang setelah The Punisher, julukan untuk Duterte, resmi dinobatkan sebagai presiden pada 30 Juni. Korban jiwa sebanyak itu tak lain adalah hasil operasi militer untuk memberangus pengedar narkoba yang menolak menyerahkan diri ke kantor polisi.

"Dikombinasikan dengan kebijakan presiden terkait dengan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional, kami percaya bahwa stabilitas dan kebijakan prediktabilitas telah berkurang," kata S&P dalam sebuah pernyataannya seperti dilansir dari Forbes.

Meski demikian, S&P tetap mempertahankan peringkat kredit negara tersebut di BBB/A-2, dengan outlook stabil, seiring dengan fundamental ekonomi Filipina yang kuat dan pengaturan fiskal yang pruden.

S&P pun memperingatkan akan menurunkan peringkat jika agenda reformasi ini gagal atau jika ada pembalikan arah fiskal di Filipina.

Menanggapi hal tersebut, Duterte pun mengeluarkan sumpah serapah, saat melakukan pidato di markas polisi Cagayan de Oro. Dia berpendapat bahwa permasalahan obat-obatan terlarang adalah masalah yang utama, bukan bagaimana pidatonya.

"Jangan terus mengeluh tentang pernyataan saya, karena pernyataan saya tidak memiliki masalah. Tidak dapat membuat sebuah negara jatuh. Saya akan mengatakan kepada [lembaga] peringkat bisnis dan ekonomi, tidak perlu mengurusi kami," kata dia seperti dilansir dari Forbes.

"Kami akan mulai sendiri. Saya bisa pergi ke China, saya bisa pergi ke Rusia. Dan saya telah berbicara dengan mereka, mereka pun menunggu saya. Jadi kenapa mengurusi saya," tambah dia.

Segera setelah pidato tersebut, Sekretaris Keuangan Duterte, Carlos Dominguez, memberikan jawaban yang lebih diplomatis dan bersikeras bahwa mereka berada di jalur yang benar dengan kebijakannya. "Tidak ada alasan untuk (rating) turun. Kami sedang berada dalam momen emas di negara kita," tutur dia.

Sekadar informasi, Duterte memang terkenal kerap mengucapkan sumpah serapah. Bahkan, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama membatalkan rencana pertemuannya dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte setelah ia menyebut pemimpin Negeri Paman Sam itu sebagai “anak pelacur”.

Ini bukan pertama kalinya kata tidak senonoh dan kasar itu digunakan Duterte ketika berbicara di depan publik dan menyebut seseorang. Sebelumnya, julukan "anak pelacur" juga sempat dialamatkan Duterte kepada Duta Besar (Dubes) AS untuk Filipina Phillip Goldberg bahkan kepada pimpinan umat Katolik sedunia Paus Fransiskus.

(mrt)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini