Share

Waspada! Penipuan Jual Beli Properti Online Makin Merebak

Minggu 02 Oktober 2016 08:39 WIB
https: img.okezone.com content 2016 09 30 470 1503127 waspada-penipuan-jual-beli-properti-online-makin-merebak-JBizhCzVQp.jpg Ilustrasi (realtor)

JAKARTA - Penipuan jual beli properti online kini semakin meningkat. Contohnya seperti di Inggris, polisi telah mencatat peningkatan jumlah penipuan online sebanyak 44 persen dengan jumlah korban 3,200 orang pencari rumah.

Sebuah survei dari YouGov, Firma riset maketing internasional berbasis internet, mencatat tahun 2013 lalu terjadi lebih dari 1 juta kasus penipuan sewa properti secara online di Inggris. Hal ini sungguh sangat ironi karena bisnis real estat melalui dunia online sudah merambah Inggris selama 20 tahun.

Bisa jadi, modus penipuan via online ini dapat terjadi di negara-negara berkembang dan yang akan menjadi sasaran empuknya adalah calon pembeli atau penyewa dari luar negeri atau luar kota, karena mereka tidak bisa melihat secara langsung properti yang mereka incar.

Menurut Managing Director Lamudi Indonesia Mart Polman, ada beberapa faktor yang membuat mengapa penipuan via online semakin meningkat, salah satunya karena pasar properti online yang semakin berkembang, sehingga memberikan keuntungan bagi para pencari properti termasuk para penipu.

Bagaimana Cara Kerja Para Penipu Online?

Biasanya, modus yang kerap digunakan oleh penipu adalah dengan membuat listing palsu. Listing tersebut juga menyertakan link yang membuat para pencari properti harus meninggalkan data. Data tersebutlah yang akan digunakan oleh penipu untuk phishing atau mencuri data.

Pada beberapa situasi tertentu, para penipu bahkan memiliki akses ke akun email agen properti atau pemilik rumah melalui cara phishing. Sehingga para korban akan percaya kemudian mentransfer sejumlah uang dan penipu menghilang selamanya. Setiap penipuan dengan teknik ini akan menimbulkan setidaknya tiga korban: pengiklan yang iklannya dipalsukan, media pengiklan (misalnya website properti online) dan tentunya calon pembeli atau penyewa.

Mart mengatakan, tanggung jawab untuk mencegah penipuan bukan hanya terletak pada platform real estate online saja. Lembaga keuangan seperti bank juga bertanggung jawab dan mencegah penipu untuk membuat rekening-rekening baru yang akan dipakai untuk menipu. (fir)

Baca Juga: 50 Tahun Berkarya, Indomie Konsisten Hidupkan Inspirasi Indomie untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini