Image

Proyeksi World Bank soal Ekonomi Filipina hingga Papua Nugini

Dedy Afrianto, Jurnalis · Rabu 05 Oktober 2016, 11:20 WIB
https img k okeinfo net content 2016 10 05 20 1506571 proyeksi world bank soal ekonomi filipina hingga papua nugini EeNKVQtQ0y jpg Ilustrasi : Okezone

JAKARTA – World Bank (Bank Dunia) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat meningkat secara konsisten hingga akhir 2018 mendatang. Bahkan, pertumbuhan ekonomi diyakini dapat meningkat hingga 5,5 persen pada 2018 mendatang.

Lantas, bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi negara berkembang lainnya?

Kepala Ekonom Bank Dunia di Kawasan Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty mengatakan, di antara negara-negara berkembang besar, prospek sangat kuat ada di Filipina. Adapun pertumbuhan ekonomi Filipina diproyeksi melaju ke level 6,4 persen.

"Vietnam yang pertumbuhan tahun ini akan terhambat oleh kekeringan parah, namun kembali pulih ke 6,3 persen di 2017. Lalu di Malaysia, pertumbuhan akan jatuh secara tajam ke 4,2 persen di 2016 dari 5 persen tahun lalu disebabkan permintaan global yang melemah terhadap minyak dan produksi ekspor," ujarnya melalui video conference di Singapura, Rabu (5/10/2016).

Untuk negara-negara berkembang kecil, lanjutnya, prospek pertumbuhan telah memburuk di beberapa negara eksportir komoditas. Ekonomi Mongolia diproyeksikan tumbuh hanya sekira 0,1 persen, turun dari 2,3 persen di 2015 akibat melemahnya ekspor mineral dan pengendalian hutan.

Sementara itu, ekonomi Papua Nugini akan tumbuh mencapai 2,4 persen di tahun 2016, turun dari 6,8 persen di tahun 2015 karena turunnya harga dan output tembaga serta LNG. Sebaliknya, pertumbuhan akan tetap kuat di Kamboja, Laos dan Myanmar.

"Walaupun ada prospek yang menjanjikan, pertumbuhan di kawasan ini bergantung oleh berbagai risiko besar. Pengetatan keuangan global, pertumbuhan global yang terus melambat atau perlambatan di Tiongkok yang datang lebih awal dari yang sudah diantisipasi, akan menjadi cobaan untuk ketahanan Asia Timur,“ ujar Sudhir Shetty.

Untuk itu, Bank Dunia mengimbau agar pemerintah di negara-negara berkembang dapat mengurangi ketidakseimbangan fiskal. Hal ini dilakukan seiring dengan melemahnya ekonomi China hingga 2018 mendatang.

"Sangat penting bagi pembuat kebijakan untuk mengurangi ketidakseimbangan finansial dan fiskal yang telah terbangun di beberapa tahun terakhir ini, yang juga disebabkan oleh ketidakpastian ini," tutupnya.

Prioritas paling awal yang perlu dikhawatirkan di antaranya adalah dengan mengedepankan reformasi di sektor korporat dan mengelola pertumbuhan kredit di China. Selain itu, juga harus dilakukan pengurangan penumpukan risiko eksternal dan domestik di perekonomian besar lainnya, menjaga ketahanan fiskal dan memperluas sumber pendapatan di kawasan untuk penghasil komoditas hingga untuk mengatasi risiko terhadap kesinambungan fiskal di Mongolia dan Timor Leste.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini