Image

Cara Sederhana Memahami Laporan Keuangan Emiten

Selasa 18 Oktober 2016, 05:49 WIB
https img okeinfo net content 2016 10 17 278 1517040 cara sederhana memahami laporan keuangan emiten 5sBoXTnQ1U jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Publikasi laporan keuangan perusahaan publik merupakan bagian dari kepatuhan terhadap ketentuan tentang transparansi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995. Undang-undang ini kemudian dijabarkan kembali melalui peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satu poin ketentuan OJK mewajibkan emiten atau perusahaan publik untuk mempublikasikan Laporan Keuangan Tahunan selambatnya 90 hari setelah berakhirnya periode laporan keuangan. Itu berarti, selambatnya tanggal 31 Maret kewajiban publikasi harus sudah dipenuhi. Jika tidak, ada sanksi yang harus ditunaikan.

Pada prinsipnya, Laporan Keuangan Tahunan dapat dijadikan pedoman mengukur kekuatan fundamental perusahaan sekaligus prospek perusahaan. Melihat urgensinya itu, penting bagi investor atau calon investor dalam memahami laporan keuangan sebelum membuat keputusan berinvestasi.

Lalu, bagian mana saja dari laporan keuangan perusahaan yang perlu dicermati. Langkah pertama, yang kerap diabaikan adalah mencermati laporan direksi atau manajemen perusahaan. Sebab pada bagian ini manajemen menjelaskan tentang tanggung jawab manajemen atas penyusunan Laporan Keuangan & Sistem Pengendalian Interen Perseroan.

Langkah berikut mencermati angka-angka yang tertera dalam laporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap terdiri atas lima bagian yaitu: laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan. Minimal seorang investor mencemati laporan posisi keuangan setelah laporan direksi. Laporan posisi keuangan menggambarkan posisi keuangan perusahaan, yang meliputi aset, liabilitas (utang), serta ekuitas (modal). Aset adalah segala sesuatu yang dimiliki perusahaan, sedangkan liabilitas & ekuitas merupakan gambaran tentang apa dilakukan perusahaan untuk memperoleh atau membiayai aset.

Ada poin penting dalam laporan posisi keuangan yang perlu dicermati adalah besar dan komposisi aset (biasanya berdasarkan likuiditasnya) dan besar dan komposisi utang (biasanya juga disusun berdasarkan mana yg senior atau harus segera dibayar) serta posisi ekuitas.

Sedangkan pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain ada beberapa poin penting yang perlu dicermati. Poin pertama adalah pos pendapatan usaha. Poin ini bisa memperlihatkan perusahaan dalam tren positif atau sebaliknya dari sisi operasional. Berita baik jika pendapatan usaha perusahaan dalam posisi positif.

Langkah berikut melihat posisi laba bersih setelah pajak. Laba bersih perusahaan menentukan besarnya laba bersih per saham. Laba bersih per saham menjadi indikasi untuk besarnya dividen yang akan dibagikan untuk pemegang saham. Perlu bagi seorang investor untuk membandingkan pendapatan usaha dan laba bersih antara beberapa emiten dalam satu sektor. Tujuannya untuk memastikan emiten mana yang membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih lebih tinggi pada sektor yang sama.

Selain itu terdapat beberapa rasio keuangan penting yang dapat dihitung oleh investor maupun calon investor. Rasio pertama, net profit margin (NPM) yang menggambarkan profitabilitas perusahaan. Nilai NPM berasal dari laba bersih dibagi pendapatan usaha. Semakin besar nilai NPM, semakin efisien perusahaan tersebut.

Rasio kedua, return on equity (ROE) yang diperoleh dari membandingkan laba yang dihasilkan dengan modal yang disetorkan pemegang saham (ekuitas). Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian hasil investasi. Nilai ROE yang baik biasanya di atas 20% persen. Semakin tinggi ROE semakin bagus atau semakin optimal kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modal perusahaan.

Rasio ketiga adalah earning per share (EPS) atau laba bersih per saham. Angka EPS diperoleh dengan membagi laba bersih perusahaan (setelah dikurangi dividen), dengan jumlah saham beredar. EPS juga bisa digunakan untuk melihat profitabilitas perusahaan. Semakin besar nilai EPS, semakin bagus kinerja emiten.

Nilai buku perusahaan atau book value perlu juga dilihat. Nilai buku berguna untuk membandingkan nilai perusahaan per saham dengan posisi harga saham di lantai bursa. Jika harga saham lebih tinggi dari nilai buku per saham, maka disebut saham tersebut overvalue atau harga melebihi nilai buku. Artinya potensi kenaikan harga saham itu akan terbatas. Sebaliknya, jika harga saham di bawah nilai buku, maka disebut undervalue atau harga saham masih di bawah nilai buku. Kenaikan harga saham sangat terbuka.

Indikator lain yang juga perlu dilihat adalah price to earning ratio (PER). Perhitungan nilai PER dapat dilakukan dengan cara membagi harga saham dengan EPS. Semakin tinggi PER maka semakin mahal harga saham tersebut. Sebaliknya nilai PER yang rendah berarti harga saham tergolong masih murah. (TIM BEI)

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini