nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Holcim Indonesia Masih Rugi Rp160 Miliar di Kuartal III

Trio Hamdani, Jurnalis · Senin 31 Oktober 2016 19:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 10 31 278 1529280 holcim-indonesia-masih-rugi-rp160-miliar-di-kuartal-iii-gnGIgSe07W.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) masih mencatatkan kerugian di kuartal III-2016, meskipun jumlahnya menurun.

Tercatat, Holcim Indonesia mengalami rugi bersih Rp160 miliar di kuartal III-2016. Nilai kerugian tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp372 miliar.

Menurunnya rugi bersih Holcim Indonesia ditopang penjualan yang mencapai Rp6,9 triliun atau naik 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,5 triliun.

Volume penjualannya mencapai 6,2 juta ton aau meningkat 10,4% di tengah pertumbuhan penjualan semen nasional masih di bawah 3% atau 44,7 juta ton. Sementara harga jual juga masih tertekan karena kondisi kelebihan pasokan dari peningkatan kapasitas industri semen yang signifikan selama dua tahun belakangan, serta lesunya permintaan pasar.

"Walaupun kondisi tersebut mengakibatkan tergerusnya marjin, namun perusahaan mampu menekan biaya-biaya operasional, khususnya biaya distribusi yang menurun 8% hingga Rp564 miliar dan biaya keuangan sebesar 51% menjadi Rp323 miliar," ujar CEO Holcim Indonesia Gary Schutz dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (31/10/2016).

Menurutnya, realisasi anggaran belanja Pemerintah yang sudah tertunda lama masih mengalami banyak kendala seperti fiskal. Hasil pajak di luar program Tax Amnesty juga belum menunjukkan hasil sesuai target. Infrastruktur hanya mewakili satu digit persentase dari total pasar jika dibandingkan dengan 80% penjualan semen yang disalurkan melalui toko, untuk kebutuhan perumahan dan proyek-proyek bangunan skala kecil.

Selain itu, pada harga jual juga masih mengalami tekanan yang disebabkan kondisi kelebihan pasokan dari peningkatan kapasitas industri semen yang signifikan selama dua tahun belakangan, serta lesunya permintaan pasar.

“Pada kenyataannya, program-program penting seperti kemudahan kredit perumahan yang mulai diluncurkan Agustus lalu dan dua kali pemotongan suku bunga belum lama ini, memerlukan waktu untuk meningkatkan permintaan pasar. Pemerintah memang telah mengumumkan hasil tinjauan terhadap lonjakan kapasitas semen kedepan, namun semua itu tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat," tukasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini