INSPIRASI BISNIS: Desain Kerajinan Boneka Ini Terbang hingga Eropa

Tri Purna Jaya, Jurnalis · Sabtu 12 November 2016 08:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 11 11 320 1539116 inspirasi-bisnis-desain-kerajinan-boneka-ini-terbang-hingga-eropa-Dd9pJyOXdZ.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

BANDARLAMPUNG – Desain eksklusif menjadi daya jual yang ditawarkan oleh CiprutCraft, sebuah usaha kerajinan tangan boneka di Bandar Lampung. Satu desain untuk satu boneka membuat produk handmade ini sudah melanglang buana sampai ke Benua Biru.

Sejumlah boneka beragam bentuk nan unik terpampang di display Rumah Ciprut di Jalan KH Agus Salim, Kaliawi, Tanjungkarang Pusat. Terselip juga diantaranya tas, bantal, dan perlengkapan bayi. Kesemuanya buatan tangan, handmade ibu satu anak ini.

“Produk utama CiprutCraft adalah Plushie (boneka), satu karakter hanya dibuat satu buah. Ini menjadikan tiap plushie berbeda dan hanya satu-satunya,” kata Ayis, Selasa (8/11/2016).

Setiap bulan, CiprutCraft mengeluarkan satu seri Plushie yang terdiri dari 8 – 12 karakter. Misalnya, Seri Bajak Laut. Karakter yang dibuat, terdiri dari beberapa plushie bajak laut yang berbeda, disertai plushie 1-2 penduduk suatu pulau.

“Sampai ke ikan paus dan burung kakaktua yang biasa bertengger di salah satu bajak laut,” katanya.

Untuk membedakan, tiap seri diberi nama yang unik, seperti dalam Seri Bajak Laut diberi nama Dongki – Mongki Island. Kemudian, pada packaging-nya juga disertakan kartu seperti sinopsis dan nama karakter dari seri itu. Hal ini menjadikan plushie CiprutCraft semacam edisi koleksi.

“Setelah seri plushie jadi, penjualan dilakukan lewat media sosial, dengan mengumumkan sebelumnya terlebih dahulu,” katanya.

Ayis merinci, untuk plushie biasanya dibanderol Rp 100 ribu – Rp 150 ribu, tergantung tingkat kerumitannya. Kemudian, souvenir dijual seharga Rp 5 ribu – Rp 50 ribu, tergantung pesanan. “Cushion Pillow biasanya Rp 120 ribu – Rp 170 ribu, tergantung kerumitan,” katanya.

Tiap bulan Ayis bisa memproduksi sebanyak 30 buah plushie, pouch (40 buah) dan tas (30 buah). Dengan strategi berjualan secara online di akun instagramnya, ciprutcraft, hasil buah tangan Ayis ini sudah melanglang buana ke Eropa.

“Kebanyakan plushie yang pesan. Biasanya ngirimnya nitip sama teman yang kebetulan berangkat ke sana, lebih terjaga dibanding lewat paket,” katanya.

Tidak Melulu Berjualan

Meski judulnya adalah berjualan, Ayis mengaku sangat susah menjual kerajinan crafting ini di kota asalnya, apalagi di Bandar Lampung crafting ini adalah sesuatu yang baru.

Alah bisa karena biasa. Tak kenal maka tak sayang, Ayis pun mencoba membaurkan crafting ini kepada masyarakat sekitar dengan membuat komunitas bernama Rumah Ciprut.

“Tujuan utamanya agar individu dapat memiliki karya yang bernilai guna dan ekonomis,” katanya.

Tak hanya sebatas kerajinan plushie, Ayis mengajak masyarakat memanfaatkan segala jenis barang bekas seperti kotak susu, kardus, tutup botol, kaos kaki bekas, ataupun botol bekas agar dapat dipergunakan lagi.

“Nilai ekonomis nantinya didapat apabila individu tersebut, mau lebih mengeksplorasi daya kreasi dan daya cipta masing-masing,” katanya.

Sasaran utama Rumah Ciprut adalah Ibu Rumah Tangga dan guru-guru PAUD. Beberapa pelatihan dan workshop sudah dilakukan. Seperti membuat dompet dari kotak susu bekas, gantungan kunci/pin dari tutup botol, menghias toples dengan flanel hingga pot bunga dan hiasan lampu dari botol bekas dan sendok plastik.

“Untuk guru PAUD, berupa pembuatan boneka tangan dari kaos kaki bekas serta pemanfaatan kardus untuk media pembelajaran di kelas nantinya,” katanya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini