Rata-Rata Kelayakan Sanitasi di Indonesia Hanya 62,1%

Dedy Afrianto, Jurnalis · Selasa 22 November 2016 10:42 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 22 320 1547819 rata-rata-kelayakan-sanitasi-di-indonesia-hanya-62-1-AI0NUCe7pl.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kelayakan sanitasi dan air layak minum di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut catatan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, rata-rata kelayakan sanitasi di Indonesia hanya mencapai 62,1%.

"Air minum yang layak hanya 71% dan sanitasi 62,1%. Kita belum mencapai target, tapi sudah mendapatkan predikat good progress," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang PS Brodjonegoro di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Menurut Bambang, pemerintah pun perlu meningkatkan komponen pasokan air minum yang cukup. Sebab, hal ini juga berdampak pada tingkat kemiskinan di Indonesia.

"Kesenjangan adalah isu pertama dari MGDs. Ini juga menjadi target kita," tuturnya.

Seperti diketahui, untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), Badan Pusat Statistik (BPS). bakerja sama dengan Bappenas dan Kementenan Kesehatan, serta dengan dukungan UNICEF, telah melaksanakan Survei Kualitas Air (SKA 2015) di Provinsi DI Yogyakarta. Tujuan pelaksanaan survei Ini adalah untuk memperoleh gambaran rinci mengenai kualitas air serta perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga yang dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal mengenai capaian target Nawa Cita, RPJMN 2015-2019, dan SDGs.

SKA 2015 merupakan uji coba survei kualitas air minum pertama di Indonesia, dengan jumlah sampel sebanyak 940 rumah tangga seluruh kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta. Pendataan SKA 2015 terintegrasi dengan Survei Sosial ekonomi Nasionai (Susenas) September 2015 yang dilakukan BPS.

Sementara itu, pengujian sampel air minum rumah tangga dllaksanakan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) DI Yogyakarta.

Adaoun alasan dari pemilihan Yogyakarta karena dari hasil Susenas Maret 2015 diketahui bahwa 81% rumah tangga di DI Yogyakarta memiliki akses terhadap air minum |ayak (Iebih tinggi dari angka rata-rata nasiona| 71,0%) dan 86,3,% memiliki akses terhadap sanitasi |ayak (juga Iebih tinggi dibanding rata-rata nasional 62,1%. Namun, hasil pengujian sampel air minum pada SKA 2015 menunjukkan bahwa 89% sumber air minum rumah tangga terkontaminasi bakteri E.coli. Hal ini menunjukkan bahwa sumber air minum |ayak tidak selaIu aman dari sisi mikrobiologi.

Semantara itu, 67,1% rumah tangga memiliki air siap minum yang terkontaminasi bakteri E.coli. Hasil SKA 2015 di DI Yogyakarta menunjukkan bahwa proporsi perkiraan rumah tangga dengan akses air minum aman sebesar 8,5% dan sanitasi yang memadai sebesar 45,5%.

Di sisi lain, persentase sampel air minum yang terkontaminasi nitrat dan khlorida jauh lebih rendah. Hanya 6,3% sampel air minum rumah tangga yang mengandung 50 mg/L nitrat, melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh Kemenkes. Bahkan, tidak ada sampel air minum rumah tangga yang mengandung khlorida di atas batas yang ditoleransi oleh Kemenkes, yaitu 250 mg/L, sesuai Permenkes No.492 Tahun 2010.

Perlu menjadi perhatian adalah mengenai tingkat kontaminasi fecal pada sumber air minum dan air siap minum rumah tangga lebih tinggi di daerah perdesaan, rumah tangga miskin, dan berpendidikan rendah. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan masyarakat untuk mengakses air minum yang layak dan aman memiliki korelasi yang sangat erat dengan tingkat kemiskinan.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini