Image

Krisis Uang Tunai Bisa Hambat Pertumbuhan Ekonomi India Tahun Depan

Raisa Adila, Jurnalis · Jum'at 02 Desember 2016, 06:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 12 01 20 1556187 krisis-uang-tunai-bisa-hambat-pertumbuhan-ekonomi-india-tahun-depan-K1C8nOrhnL.jpg Ilustrasi : Reuters

NEW DELHI - Perekonomian India tahun ini mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Produk domestik bruto tumbuh sebesar 7,3% pada kuartal yang berakhir September.

Hal ini berarti India masih menjadi negara dengan ekonomi yang berkembang tercepat di dunia. Pasalnya, pertumbuhan India sedikit meningkat dari kuartal sebelumnya dan lebih kuat dari China yang sebesar 6,7%.

Namun, melejitnya pertumbuhan India bisa tiba-tiba berhenti. Terlebih masih ada data ekonomi untuk kuartal Oktober-Desember yang diterbitkan awal tahun depan.

Hal ini lantaran pengumuman India pada 8 November yang menyatakan uang pecahan 500 dan 1.000 rupee lama telah ditarik dari peredaran. Perdana Menteri Narendra Modi mengambil langkah mengejutkan itu yang bertujuan untuk mengatasi korupsi dan penggelapan pajak.

Kini, India tengah dikejar dengan batas waktu penukaran uang tunai tersebut hingga 30 Desember 2016. Tetapi, masyarakat yang bergantung pada uang tunai untuk lebih dari 90% transaksi membuat hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari telah terpengaruh.

Jutaan warga berbaris di bank dan ATM, membuat India kehabisan uang tunai karena pemerintah mengacak untuk mencetak dan mengedarkan uang baru 500 rupee dan 2.000 rupee.

Penjualan segala sesuatu dari smartphone telah jatuh, dan sektor seperti perhiasan, konstruksi dan real estate telah sangat terpukul.

Modi dan pemerintahnya mengatakan, pelarangan uang pecahan 500 dan 1.000 rupee akan baik bagi India dalam jangka panjang. Tapi itu bisa berarti kerugian yang signifikan dari momentum ekonomi dalam waktu dekat.

Analis memperkirakan, pertumbuhan selama dua kuartal berikutnya bisa turun sebanyak 1% atau lebih. Fitch Ratings minggu ini memangkas proyeksi pertumbuhan untuk tahun keuangan saat ini menjadi 6,9% dari 7,4%.

"Anda akan melihat perlambatan sektor ekonomi di mana ada sejumlah besar transaksi tunai," kata Ekonom Capital Economics Shilan Shah melansir CNN.

Tetapi jika India berhasil memulangkan lebih banyak "uang hitam" ke dalam sistem perbankan, dan mendapatkan banyaknya penerimaan pajak sebagai hasilnya, itu bisa menjadi menarik bagi investor asing, terutama jika ditekan dengan reformasi lainnya.

"Ada perasaan bahwa momentum reformasi sedang dibangun, dalam hal apa yang dicapai pemerintah tahun ini saya pikir secara umum itu menjadi cerita yang positif," tukas Shah.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini