Image

Pemerintah Perlu Waspadai Kenaikan Harga Beras

Agregasi Jum'at 02 Desember 2016, 15:24 WIB
https img o okeinfo net content 2016 12 02 320 1557267 pemerintah perlu waspadai kenaikan harga beras tV5kUGucKm jpg Ilustrasi beras. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu mewaspadai kenaikan harga beras kualitas medium yang pada November 2016 naik rata-rata sebesar 0,77% di tingkat penggilingan dari Rp8.981 per kg menjadi Rp9.050 per kg.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa selain kenaikan harga rata-rata beras kualitas medium, harga beras kualitas rendah juga naik sebesar 0,40% menjadi Rp8.632 per kg dan kualitas premium naik 1,37% menjadi Rp9.257 per kg.

"Desember 2016 perlu waspada harga beras naik. Sejauh ini, pelaku usaha tidak mengambil keuntungan yang tidak wajar," kata Sasmito.

Pada tingkat penggilingan, untuk harga rata-rata harga gabah kering panen juga meningkat 0,37% menjadi Rp4.660 per kg. Sementara untuk gabah kering giling naik 0,23% menjadi Rp5.426 per kg dan gabah kualitas rendah menjadi Rp4.225 per kg atau naik 0,31%.

Sama halnya dengan tingkat penggilingan, pada tingkat petani rata-rata harga gabah kering panen Rp4.574,00 per kg atau naik 0,41%. Harga gabah kering giling di tingkat yang sama tercatat Rp5.325,00 per kg atau naik 0,26% dan gabah kualitas rendah naik 0,28% atau menjadi Rp4.122,00 per kg.

Tercatat, harga tertinggi untuk gabah di tingkat petani mencapai Rp7.500 per kg dan di tingkat penggilingan sebesar Rp7.550 per kg. Sementara untuk yang terendah mencapai Rp3.300 per kg di tingkat petani dan Rp3.475 di tingkat penggilingan.

Harga tertinggi di tingkat petani dan penggilingan berasal dari kualitas gabah kering panen varietas Siam Mayang di Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Sementara itu, untuk terendah berasal dari gabah kualitas rendah varietas IR64 dan Mikongga yang terjadi di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa barat.

Laporan Badan Pusat Statistik tersebut berdasarkan 1.571 transaksi penjualan gabah di 23 provinsi selama November 2016 yang didominasi transaksi gabah kering panen 67,60%, gabah kualitas rendah 20,24%, dan gabah kering giling 12,16%.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini