nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nilai Produksi IKM Alas Kaki Ditarget Rp24 Triliun

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 04 Januari 2017 09:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 01 04 320 1582697 nilai-produksi-ikm-alas-kaki-ditarget-rp24-triliun-Oqd29KJyRm.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian mendorong produktivitas dan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) produsen alas kaki. Sektor ini menjadi salah satu yang diprioritaskan pengembangannya karena berperan dalam memberikan kontribusi terhadap devisa negara dan penyerapan tenaga kerja.

”Pada 2016, penambahan investasi IKM alas kaki diperkirakan sebesar Rp2,8 triliun dengan nilai produksinya mencapai Rp22,98 triliun. Kami memproyeksikan, nilai produksi sektor ini akan meningkat pada 2017 sebesar Rp24,25 triliun,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya seusai melakukan kunjungan ke Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Airlangga menegaskan, pihaknya terus memberikan perhatian lebih bagi IKM dalam negeri karena telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional. ”Di hari pertama kerja di 2017 ini, agenda kunjungan kerja kami pertama ke Ciomas, dan ini adalah bentuk perhatian lebih yang diberikan pada pelaku IKM di Kabupaten Bogor,” ujarnya. Pada kesempatan tersebut, Menperin didampingi Dirjen IKM Gati Wibawaningsih melakukan dialog dan temu usaha dengan pelaku IKM Alas Kaki di Desa Mekar Jaya dan Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Bogor Jawa Barat. Selain itu, rombongan mengunjungi Unit Pelayanan Teknis (UPT) Desa Cibalagung, Bogor Barat, Jawa Barat.

Airlangga menyampaikan, secara umum rata-rata nilai investasi yang ditanamkan untuk menjalankan usaha IKM alas kaki di dalam negeri sebesar Rp37 juta. Sementara, untuk menghasilkan produknya, diperlukan bahan baku utama yang rata-rata senilai Rp6,5 juta dalam satu bulan. ”Sedangkan, nilai produksi penjualan dari hasil industri ini rata-rata dalam satu bulan menghasilkan pemasukan Rp14 juta. Dengan hasil produksi tersebut didapatkan nilai tambah rata-rata sebesar Rp 6,8 juta dalam satu bulan,” ungkapnya.

Menurut Airlangga, IKM alas kaki mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja, dengan karakteristik jumlah pekerja di setiap satu unit usaha sekitar 1-19 orang. Berdasarkan data BPS pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 15 (KBLI-15), IKM alas kaki tergabung dalam kelompok IKM penyamakan kulit dan produk kulit. Data 2010 menunjukkan, kelompok usaha tersebut berjumlah 32.910 unit dengan jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 114.495 orang di seluruh Indonesia.

”Dari data tersebut, sebanyak 49% merupakan IKM alas kaki, selanjutnya 48% IKM produk kulit dan 3% IKM penyamakan kulit. Sedangkan, penyerapan tenaga kerja pada masing-masing sektor, sebanyak 51% terserap di IKM alas kaki, disusul 46% di IKM produk dari kulit dan sisanya 3% di IKM penyamakan kulit,” paparnya.

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, kemajuan IKM alas kaki secara langsung akan memajukan industri kreatif, dan sebaliknya industri kreatif yang maju akan menjadikan sebuah kota atau suatu daerah berkembang menjadi sumber destinasi pariwisata.

”Diperkirakan, pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki 2016 sebesar 7,74% dan hingga Oktober 2016, ekspor produk alas kaki dari Indonesia mencapai USD3,7 miliar,” ujarnya. Gati menyampaikan, program dan kebijakan pengembangan daya saing IKM alas kaki nasional, antara lain program pengenaan pajak ekspor bahan baku kulit dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku dalam negeri serta penguatan branding produk dalam negeri melalui sepatu Ekuator.

”Pada tahun 2017, kami akan memacu awareness pasar terhadap branding sepatu merek Ekuator melalui pembuatan tipe baru dan peningkatan promosi,” jelasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini