Image

Palu Arit di Rupiah Hoax, Ini Makna Sesungguhnya

ant, Jurnalis · Kamis 12 Januari 2017, 12:12 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 01 12 20 1589572 palu-arit-di-rupiah-hoax-ini-makna-sesungguhnya-71yEBlwz1A.jpg Ilustrasi : Okezone

JAMBI – Bank Indonesia (BI) terus memberikan penjelasan jika isu gambar palu arit pada uang rupiah adalah isu "hoax".

Pada setiap uang kertas rupiah yang masih berlaku mulai pecahan Rp1.000-Rp100.000 terdapat unsur pengaman yang disebut sebagai 'rectoverso' atau gambar saling isi.

Rectoverso adalah suatu teknik cetak khusus pada uang kertas di mana pada posisi yang sama dan saling membelakangi di bagian depan, dan bagian belakang uang kertas terdapat suatu ornamen khusus seperti gambar tidak beraturan.

Rectoverso itu dapat dilihat pada bagian depan uang di sudut kiri atas, di bawah angka nominal. Dan pada bagian belakang uang berada di sudut kanan atas di bawah nomor seri.

"Apabila rectoverso pada uang kertas diterawang ke arah cahaya maka akan terbentuk suatu gambar yang beraturan. Pada setiap pecahan uang kertas rupiah, rectoverso membentuk ornamen lambang BI," kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi V Carlusa, Kamis (12/1/2017).

Carlusa juga mengatakan, pemilihan desain 'rectoverso' yang ada pada uang rupiah sudah melalui kajian teknis. Dan disimpulkan bahwa desain seperti di uang rupiah adalah yang paling sulit dipalsukan.

Sementara isu hoax terkait warna uang rupiah tahun emisi 2016 mirip yuan, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi Poltak Sitanggang menegaskan, warna uang rupiah tahun emisi 2016 sudah sesuai dengan standar bank sentral di seluruh dunia dan tidak dimiripkan dengan mata uang negara manapun, termasuk yuan.

Sedangkan pemilihan pahlawan, kata Poltak penggunaan gambar pahlawan diperoleh pemerintah dari instansi resmi yang berwenang dalam hal ini Kemensos RI dan harus memperoleh persetujuan dari ahli waris dan ditetapkan dengan keputusan Presiden.

"Penggunaan gambar pahlawan sesuai dengan amanat undang-undang, bukan sembarangan dibuat. Diteliti sebelum diterbitkan, bukan hanya dari arsip sejarah tapi juga konfirmasi dengan pihak keluarga, baru diterbitkan," kata Poltak.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini