Share

Jaga Kepercayaan Investor dengan Proyek Pembangkit Listrik

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Rabu 18 Januari 2017 11:22 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 18 320 1594377 jaga-kepercayaan-investor-dengan-proyek-pembangkit-listrik-js5v8Zu20F.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintahan Jokowi-JK terus gencar dalam pembangunan infrastruktur, salah satunya infrastruktur proyek listrik dengan program 35.000 megawatt (mw) dalam lima tahun ke depan.

Untuk itu, peranan pemerintah dan pihak swasta harus mendukung pembangunan pembangkit listrik agar tercapai target rasio elektrifikasi. Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara menilai Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Jawa 1 yang termasuk program 35 ribu mw seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pasalnya, proyek ini menyangkut citra bisnis Indonesia di mata investor, khususnya investor dunia.

Apabila proyek tersebut tiba-tiba dibatalkan akan memberi dampak yang luas khususnya kepercayaan investor. Namun, ada kabar bahwa Konsorsium Pertamina dan PT PLN sudah mendekati kesepakatan dan akan segera menandatangani power purchase agreement (PPA) atau perjanjian jual-beli listrik dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Jawa 1.

"Ini perlu dicermati lebih lanjut, apakah sekadar kabar angin atau memang benar. Alasannya, PLTGU Jawa 1 adalah megaproyek strategis yang menyangkut kepentingan listrik nasional, bukan sekadar permainan negosiasi PLN dengan mitranya," kata Marwan di Jakarta, Rabu (18/1/2017).

Proyek PLTGU Jawa 1 adalah bagian dari program pembangunan pembangkit 35.000 mw yang diluncurkan oleh Presiden Jokowi pada awal masa pemerintahannya, dan karena itu perlu diselamatkan. Dalam proses tender Oktober 2016, konsorsium Pertamina bersama Marubeni dan Sojitz Corporation ditetapkan sebagai peringkat pertama atau pemenang tender.

"Jika dicermati isu yang berkembang di publik saat ini, menurut Marwan ada dua penyebab utama kekisruhan PLTGU Jawa 1 yaitu yang berakar dari masalah bankability dan isu teknis komersial, yang tidak kunjung disepakati meskipun sudah melewati tenggat waktu, maka hal ini bukan masalah sederhana. Pasti terdapat konsekuensi keekonomian yang sangat signifikan," paparnya.

Marwan juga bertanya bila kabar yang mengatakan adanya kesepakatan konsorsium Pertamina dan PLN, apakah ada salah satu yang berkorban. Mengingat adanya keinginan PLN untuk membatalkan tender ini, maka patut diduga bahwa yang berkorban adalah pihak Pertamina.

Dengan perkataan lain, kabar baik ini dapat dijadikan indikasi bahwa Pertamina dan konsorsiumnya telah bersedia menelan semua ongkos akibat terjadinya komplikasi isu teknis komersial itu.

"Apabila indikasi tersebut benar, maka patut disampaikan salut untuk Pertamina dan kepemimpinannya dalam mengelola para mitranya, sehingga mampu menjaga komitmen untuk tetap memperjuangkan agar proyek Jawa 1 tetap berjalan," tukasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini