nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Invasi Generasi Milenial di Dunia Kerja, Siapkah Kita?

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 24 Januari 2017 10:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 01 24 320 1599322 invasi-generasi-milenial-di-dunia-kerja-siapkah-kita-UfDet7tP12.jpg Ilustrasi : Shutterstock

AKHIR-akhir ini marak diskusi baik di coffee shop, kantor maupun seminar-seminar membahas pusingnya para atasan menghadapi spesies pekerja baru yang dikenal dengan istilah generasi milenial.

Inilah mereka yang baru mulai masuk dunia kerja, anak-anak kelahiran tahun 1980-an. Generasi yang lebih mengenal Minecraft daripada Lego, memiliki jam terbang online games maupun jam terbang naik pesawat lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Generasi milenial terkenal dengan image-nya yang idealistik, mereka ingin mengubah dunia, kurang berkomitmen alias cepat bosan dengan tantangan kerja yang rutin, suka sharing, dan tidak mementingkan konsep kepemilikan.

Oleh karena itu, sharing economy sukses berkembang di era milenial ini. Suka maupun tidak, Gen Y sudah masuk ke dunia kerja dan di 2020 Gen Z akan bergabung juga. Tim rekruter yang sebelumnya cukup berbekal pengetahuan soal lingkup tanggung jawab pekerjaan, gaji, dan sarana kerja sekarang pusing menghadapi pertanyaan tentang visi perusahaan, tanggung jawab sosial, dan kemungkinan mereka dapat bekerja di kafe atau izin untuk cuti lebih lama agar dapat keliling dunia. Masalahnya, begitu masuk dunia kerja, bagaimana dengan perilaku mereka yang kesannya mementingkan diri sendiri, senang travelling, mudah bosan dan kurang komitmen?

Pusing juga sepertinya punya anak buah yang sulit diandalkan untuk tugas berjangka waktu panjang. Jangan-jangan baru selesai mengikuti pelatihan mereka langsung pindah perusahaan. Seorang teman merekrut lulusan baru dari beragam universitas terkemuka. Dia selama ini dikenal cukup dekat dengan timnya. Dia pun ikut memakai jaringan media sosial termasuk Twitter dan memfollow teman-teman maupun timnya, termasuk si anak baru generasi milenial ini. Di satu hari dia heboh bercerita tentang anak baru tersebut, “Baru satu hari, itu anak sudah nge-tweet ‘first day in a new job and I am bored to death’. Waduh, saya gimana sebaiknya nih ?” Apayang terjadi? Baru hari pertama, generation gap sudah terasa.

Sesuatu yang tabu bagi atasan, bagi si milenial dianggap wajar untuk diketahui orang sedunia Twitter. Untung si atasan cukup kekinian dan menjadi follower Twitter anak buahnya sehingga dia dapat menangkap masalah ini. Rupanya si atasan (Gen X) beranggapan, karyawan baru tentu perlu belajar dulu selukbeluk perusahaan sehingga diberilah si karyawan baru setumpuk dokumen standar kerja, proses, dan kebijakan perusahaan untuk dibaca. Kebanyakan Gen X dibesarkan melalui proses belajar yang teratur, terstruktur, dan satu arah.

Sementara generasi milenial, yang kebanyakan sudah memiliki akses ke internet serta beribu sumber daya, sianakmuda yang dianggap dengan istilah sekarang sotoy, cenderung lebih suka bila diberi masalah untuk dipecahkan. Solusinya? Beri dia tugas atau permasalahan yang perlu dikerjakan dalam waktu tertentu serta setumpuk aturan, proses, standar kebijakan yang harus dituruti. Baru itu namanya tantangan berarti bagi pekerja milenial. Mereka memperlakukan tugas kerja bak memecahkan misteri.

Dari sinilah si anak baru akan merasakan bahwa teori lebih indah daripada realitas dan atasan yang Gen X bisa jadi memang punya pengalaman dan pengetahuan yang dapat membantu mereka mengatasi masalah. Jangan lupa, mereka suka sekali diberi umpan balik yang spesifik, tetapi akan cenderung menunggu kita untuk mendekat. Mereka yang salah atau kita yang Gen X, bahkan baby boomer yang justru perlu melihat mereka dengan cara yang berbeda?

Toh generasi milenial merupakan produk dari lingkungan, teknologi, kondisi sosio-ekonomi yang muncul karena generasi kita juga. Dan toh kita juga pernah muda seperti mereka. Kita lupa bahwa saat kuliah dan baru lulus, yang namanya orang muda memang banyak yang masih idealis, ingin kebebasan tinggi, belum terbebani dengan kebutuhan membentuk dan menghidupi keluarga serta kondisi kesehatan masih segar bugar. Apalagi ditambah dengan mudahnya akses internet serta biaya perjalanan yang semakin terjangkau, wajarlah bila orang-orang muda tertarik menjelajah dunia dan menjadi bagian dari generasi dengan mimpi membenahi dunia. Kemudian apa dampaknya bagi perusahaan?

Perusahaan dan atasan yang menerapkan aturan-aturan kaku seperti jumlah cuti terbatas, bekerja harus di jam dan lokasi kerja tertentu kemungkinan besar akan kalah dengan perusahaan dan atasan yang memberikan kebebasan memilih bagi pekerjanya. Bagaimana dengan bidang bisnis yang menuntut rutinitas dan disiplin seperti di bidang manufaktur serta jasa layanan? Bukankah semua bidang tersebut membutuhkan komitmen, keteraturan serta kejelasan yang terperinci dalam menjalankan bisnisnya?

Sebenarnya kebutuhan bisnis ini tidak harus berseberangan dengan kebutuhan generasi milenial untuk memiliki kebebasan atau lebih tepatnya perception of freedom. Selama target, KPI, dan perannya jelas, dan dia juga diberi kesempatan berinovasi, kebanyakan generasi milenial dapat berprestasi di dunia kerja, bahkan memberi terobosanterobosan bermakna.

Pada akhirnya pertanyaan yang penting bukan apakah generasi milenial sudah siap atau belum menghadapi dunia kerja? Namun lebih tepatnya adalah apakah kita dan dunia kerja sudah siap menyambut generasi milenial?

Ripy Mangkoesoebroto

Chief Human Resources Officer at Indosat Ooredoo

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini