Image

Australia Ajak China dan Indonesia Gabung TPP, Bagaimana Tanggapan BKPM?

Dedy Afrianto, Jurnalis · Selasa 24 Januari 2017, 19:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 01 24 320 1599953 australia-ajak-china-dan-indonesia-gabung-tpp-bagaimana-tanggapan-bkpm-FXKXXYBa9V.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Australia berencana untuk menyelamatkan kerjasama Trans Pacific Partnership (TPP) setelah Amerika Serikat menarik diri. China dan Indonesia pun diajak untuk bergabung dalam kerjasama perdagangan bebas ini.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengungkapkan bahwa belum mengetahui detil mengenai rencana ini. Pembahasan dengan Menteri Perdagangan Australia pun perlu dilakukan.

"Saya kita pada dasarnya perundingan TPP sudah berjalan selama sembilan tahun, dan sudah banyak upaya susah payah yang dituangkan untuk menyusun TPP ini. Jadi ‎sayang cuma karena amerika keluar, masa seluruhnya jadi enggak jadi," tuturnya di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Selasa (24/1/2017).

Sebagai dugaan awal, Thomas Lembong memprediksi bahwa rencana Australia ini adalah agar Indonesia atau China dapat menggantikan posisi Amerika Serikat. Indonesia dan China pun dianggap dapat menyelamatkan TPP.

Indonesia dinilai memiliki potensi dalam bersaing di pasar bebas. Selain padat modal, Indonesia dianggap dapat bersaing pada industri padat karya. Untuk itu, pemerintah perlu membangun berbagai macam industri pengolahan dan manufaktur.

"Saya akan ngobrol dulu dengan Pak Enggar Mendag kita. Jadi ini semua masih belum sempat kita bicarakan sama sekali antara Steve (Menteri Perdagangan Australia Steven Ciobo) dengan saya, dengan Enggar atau saya dengan pak Enggar. Jadi ini maish tahap awal," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sepakat menyatakan bahwa masih memperlajari rencana Australia terkait TPP. Kelebihan dan kekurangan dalam rencana ini pun akan dibahas secara lebih dalam.

"Kita kan baru mempelajari, ya kalau mbahnya (Amerika) enggak ikut ngapain kita ikut," tutur Darmin.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini