nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

2 Jurus Sakti Memotivasi Karyawan Lebih Produktif

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 27 Januari 2017 10:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 01 27 320 1602417 memotivasi-karyawan-lebih-produktif-loqAuwMOdX.jpg Eliezer Hardjo (Foto: Koran Sindo)

MEMOTIVASI karyawan adalah tugas manajemen dengan dua tujuan yakni, agar mereka bekerja optimal dan produktif untuk kepentingan perusahaan.

Selain itu, agar karyawan merasa kerasan, betah, dan tidak berpikir untuk pindah kerja demi kepentingan perusahaan. Tuntutan persaingan mendesak agar perusahaan memiliki karyawan terampil, cekatan, dan cermat sehingga menghasilkan output yang tinggi bukan saja dari segi kuantitas, namun juga kualitas. Mungkin saja seorang karyawan serbapintar dan serbabisa.

Akan tetapi, tanpa motivasi, ia tidak akan berbuat maksimal bagi dirinya maupun perusahaan. Ada dua cara memotivasi karyawan. Pertama adalah extrinsic, yakni faktor dari luar yang memengaruhi kinerja karyawan. Contohnya kompensasi dan reward yang bersifat fisik, namun juga nonfisik.

Kedua adalah intrinsik, yakni faktor dari dalam diri karyawan yang bersangkutan di mana ia merasa puas dan senang. Adapun ciri-ciri karyawan yang termotivasi antara lain:

a. Memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam fungsi dan tugasnya, baik bekerja sendiri maupun dalam sebuah tim.

b. Bekerja secara optimal dengan hasil maksimal tanpa harus dikejar- kejar.

c. Ingin maju, selalu ingin belajar hal-hal baru guna memperbaiki diri dan menyongsong masa depan untuk maju dalam karier.

d. Memperlihatkan antusiasme, tidak murung, dan tampak bosan.

e. Berpandangan positif, lebih melihat peluang dibandingkan ancaman atau penghalang, selalu mencari jalan keluar atas masalah dan mencari perbaikan terus menerus, tidak mudah merasa puas atas hasil yang telah dicapai, selalu berkeinginan untuk berbuat dan memberikan yang lebih baik dan terbaik.

Untuk memotivasi karyawan, terutama yang bertujuan meningkatkan produktivitas, perusahaan perlu merancang program-program seperti pertama, insentif atau bonus. Ada yang dijadikan standar dan semua kuantitas yang diproduksi atau dicapai di atasnya diberikan insentif.

Semua pihak yang terkait perlu memperolehnya walau dengan proporsi dan cara perhitungan yang berbeda bagi. Libatkan karyawan dalam penentuan target sehingga ikut memiliki rasa tanggung jawab karena merupakan bagian dari perancangan. Kedua, ada feedback atau timbal balik.

Berikan masukan yang konstruktif agar karyawan dapat bekerja lebih baik, sekalipun itu merupakan dan sudah menjadi tugasnya. Karyawan dapat saja lalai dan tidak menyadari kekurangan dan kesalahannya. Ajaklah berpikir positif karena orang yang berpikir positif akan melihat peluang dalam ancaman.

Sebaliknya, orang yang berpikir negatif mencari-cari alasan pembenaran untuk menutupi kesalahan atau kekurangannya. Ketiga, recognition. Menghargai keberadaan karyawan sebagai sosok pribadi bukan sekadar nomor atau robot. Karyawan memiliki perasaan dan sebuah pengakuan dan penghargaan dari atasan akan memberikan rasa bangga tersendiri baginya.

Keempat, training and mentoring. Karyawan diberikan pelatihan, baik secara teori maupun praktik di lapangan dan bidang masing-masing agar lebih terampil dan diberikan pendampingan (mentoring) beberapa waktu lamanya sampai yang bersangkutan dapat melanjutkan tugas dan pekerjaannya sendiri.

Pelatihan dapat dilakukan serentak terhadap sekelompok karyawan pada bidang dan tanggung jawab yang akan atau sedang diembannya, namun pendampingan (mentoring) harus bersifat pribadi demi pribadi agar lebih efektif dan ada keterbukaan.

Juga lebih fokus pada tanggung jawabnya, bukan tanggung jawab bersama dalam tim. Kelima, eliminate dissatisfaction factors. Mengurangi dan meniadakan faktor-faktor yang membuat karyawan merasa tidak puas dan sebaliknya menambah faktor-faktor yang membuat karyawan merasa puas dalam pengertian penerapan keadilan dalam semua faktor; take and give.

Perusahaan mengambil maksimum dari karyawan, sebaliknya juga memberikan kompensasi maksimum yang menjadi hak karyawan. Keenam, reward and sanction. Berikan reward atas prestasi dan sanksi atas kelalaian dan performa jauh di bawah standar.

Perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki jika dalam batas waktu toleransi tetap juga tidak bisa atau tidak mampu mengerjakan bagian tugasnya, berarti yang bersangkutan tidak cukup mampu untuk dapat menjalankan tugasnya dan karenanya harus diberhentikan atau dimutasi, diganti oleh karyawan lain yang mampu.

Ketujuh, team Building. Ciptakan rasa kebanggaan sebagai tim pemenang, jika yang perlu dimotivasi adalah tim di samping pribadi demi pribadi. Be-rikan gambaran yang besar dan luas di mana saja karyawan dapat mengambil bagian. Dalam konteks departemen, divisi dan korporat, ada berbagai tingkatan dalam membentuk tim.

Tim terkecil yang langsung (direct) biasanya dalam satu departemen atau secara task-force, dan dalam kelompok yang lebih luas, tidak langsung (indirect), namun terkait satu sama lain (inter-connected). Kedelapan, project assignments. Tim sekelompok karyawan diberikan tugas untuk mengerjakan sebuah proyek, bisa bersifat simulasi jika memerlukan pembelajaran dan bisa langsung berupa tugas nyata (real project).

Berikan batasan dan pengukuran keberhasilan di mana semua anggota tim harus mengambil bagian dan giliran, kemudian anggota tim yang lain harus membantu atau menolong, jika ingin proyek selesai pada waktunya dengan performa yang terbaik.

DR. ELIEZER H. HARDJO PH.D., CM

Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) &

The Institute of Certified Professional Managers (ICPM)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini