Image

HET Jadi Pintu Pembenahan Komprehensif Harga Gula

Fakhri Rezy, Jurnalis · Kamis 02 Februari 2017, 21:52 WIB
https img z okeinfo net content 2017 02 02 320 1608126 het jadi pintu pembenahan komprehensif harga gula QnsPH0kkJh jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA – Efisiensi biaya produksi dan distribusi pada komoditas penting seperti gula, menjadi salah satu solusi untuk mengatasi lonjakan harga gula dari sisi hulu. Langkah ini bisa lebih efektif jika dilanjutkan dengan kebijakan di sisi hilir melalui penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, industri gula di Indonesia memiliki dua kendala utama, yakni tidak terintegrasinya produksi gula di satu wilayah dan inefisiensi pabrik gula lama.

"Kalau produksi gula dilakukan secara teringrasi seperti di Lampung, itu efisien dan relatif murah. Persoalan timbul adalah pabrik gula lama masih dioperasikan, sementara tebu masih mengandalkan dari petani yang masih tersebar dimana-mana,” ujarnya dalam keterangan, Jakarta, Kamis (2/2/2017).

Ia menyebut, manajemen tebang angkut giling yang tidak mudah, efisiensi pabrik gula yang tidak baik, dan faktor non teknis lain menyebabkan harga gula menjadi tinggi. Karenanya, beban konsumen dan lonjakan inflasi bisa menjadi ancaman bila pemerintah tak menerapkan harga HET saat harga gula meningkat drastis.

“Pada kondisi dimana harga gula itu tidak normal atau terlalu tinggi, penetapan HET sudah seharusnya dilakukan. Jika tidak, makin memberatkan konsumen dan inflasi," serunya.

Anton menuturkan, untuk membuat iklim industri gula yang ideal, pemerintah perlu melakukan penjualan atas pabrik gula yang tidak efisien ke swasta. Selanjutnya mendirikan pabrik gula terintegrasi. "Kalau kita belajar ke Thailand, sebetulnya pabrik gula tidak memiliki perkebunan. Mereka kerjasama dengan petani, tapi dalam satu area terkontorl, transportasi dekat. Pemerintahnya menetapkan harga dasar pembelian dari petani. Hasilnya, petani bergairah, pabrik pun bagus kualitasnya," bebernya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengaku sejauh ini terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan bahan pokok di Tanah Air. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahja Widayanti di kesempatan berbeda mengatakan, pihaknya saat ini tengah merumuskan upaya efisiensi dari proses produksi hingga distribusi komoditas pangan. Menurutnya hal ini semata-mata bertujuan untuk menjaga fluktuasi harga pangan.

Dikatakannya, selama ini fluktuasi harga komoditas pangan di Indonesia terjadi lantaran panjangnya mata rantai distribusi, mulai dari produsen hingga ke tangan masyarakat. Oleh sebab itu, Kemendag bersama kementerian/lembaga lainnya tengah berupaya untuk mengefisienkan jalur distribusinya, sehingga stabilitas pasokaan maupun harga bisa dioptimalkan. “Saat ini, pembahasan tentang upaya mengefisienkan mata rantai produksi dan distribusi tersebut tengah dibahas bersama dengan Menko Perekonomian,” kata Tjahya.

Ia menuturkan, Kemendag saat ini telah mengeluarkan kebijakan yang mengatur HET untuk gula pasir sebesar Rp12.500/Kg. Penetapan HET pada komoditas gula pasir tersebut bertujuan agar, harga gula untuk masyarakat di pasaran bisa lebih ditekan. Tjahja menyebut, kebijakan HET tersebut sudah sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini