Image

Penetapan HET Gula Untungkan Konsumen dan Pedagang Ritel

Rizkie Fauzian, Jurnalis · Minggu 05 Februari 2017, 18:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 02 05 320 1610073 penetapan-het-gula-untungkan-konsumen-dan-pedagang-ritel-zhq0bmAGDw.jpg Ilustrasi: Reuters

JAKARTA- Penetapan Harga Eceran tertinggi (HET) untuk komoditas pangan pokok seperti gula, berdampak positif terhadap perdagangan gula di level ritel. Pasalnya, baik konsumen maupun pedagang ritel diyakini akan diuntungkan dengan harga yang stabil.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengepresiasi langkah pemerintah memoderatori penetapan HET antara produsen dan distributor. Pedagang juga mengakui, penetapan ini menenangkan mereka, akan lonjakan harga yang bisanya dikeluhkan konsumen.

Koordinator Bidang Pengaduan dan Hukum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sularsi meyakini, penetapan HET gula sebesar Rp 12.500 per kilogram dimaksudkan untuk mengantisipasi agar harga gula tidak melebihi dari yang sewajarnya. Karena itu, dari sisi konsumen penetapan HET gula sangat baik untuk melindungi masyarakat.

“Kalau dari sisi konsumen, penetapan HET ini sangat menguntungkan. Karena ada kepastian harga tertinggi. Tidak seperti harga cabai yang sewaktu-waktu bisa sangat tinggi harganya,” tuturnya di Jakarta.

Hanya saja, dengan adanya penetapan HET gula, menurutnya pemerintah juga harus mengedepankan mekanisme pengawasan. “Caranya, dengan wajib melakukan operasi pasar apabila muncul harga melebihi HET yang telah ditetapkan,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga meminta penetapan HET gula ini juga bisa menguntungkan petani lokal. Diantaraya dengan mengawasi peredaran produk lokal dan memperbaiki tata niaga impor. “Jangan sampai justru petani yang terancam dengan penetapan HET ini. Itu harus selesai. Petani juga harus diuntungkan,” serunya.

Heri, Pedagang kebutuhan pokok di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur mengaku, dirinya sudah mengetahui adanya kebijakan penetapan HET untuk gula. Ia merasa dalam sebulan terakhir, harga gula terbilang stabil di banding bulan-bulan sebelumnya, begitupula jika dibandingka dengan harga kebutuhan pokok lainnya. Karena itu, ia yakin penetapan HET ini akan berdampak langsung pada stabilitas harga gula di pasaran.

Dari pengalamannya, ia mengatakan jika stabilisasi harga , erat kaitannya dengan daya beli masyarakat. “Ya kalau harga nggak stabil, terus ada kenaikan yang cukup tinggi, daya beli masyarakat akan berpengaruh. Meski gula termasuk kebutuhan pokok yang pasti ada pembelinya, tapi kami bisa rasakan perubahan daya beli masyarakat, ada pengurangan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, menjelang perayaan tahun baru kemarin, harga gula sempat mencapai Rp16.000 per kilogram. Saat itulah daya beli masyarakat dirasakan Heri sangat menurun. Karena itulah ia berharap penetapan HET gula yang ada saat ini, bisa diterapkan juga untuk komoditi lain yang cukup penting bagi masyarakat, misalnya minyak goreng.

Senada, Pedagang grosiran kelontong di wilayah Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur, Gelora Surbakti berharap pemerintah terus melakukan upaya untuk menjaga stabilitas harga gula di pasaran, khususnya setiap menjelang hari raya. Pada momen-momen hari raya biasanya fluktuasi harga gula di pasaran bisa mencapai Rp 5.000 perkilogram. Disparitas harga yang tinggi semacam ini, menurutnya selalu berdampak langsung pada daya beli masyarakat

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) Abdullah Mansuri menyambut positif penerapan HET tersebut. Ia berpendapat, penerapan HET ini akan membuat para ‘pemain’ gula berhati-hati, lantaran dengan HET harga gula yang ada di pasaran tak lagi bisa dipermainkan sekehendaknya. “Gula ini kan pemainnya banyak banget, dan tahapannya cukup ribet menurut saya. Jadi dengan adanya HET ini lebih bagus. Ini demi kebaikan bersama. Agar harga gula juga bisa dikendalikan,” kata Abdullah.

Meski begitu, Abdullah mengingatkan kondisi yang terjadi di lapangan masih belum sepenuhnya sesuai harapan. Kendati saat ini HET gula ditetapkan sebesar Rp12.500 perilogram, di lapangan masih dtemukan gula dijual sampai Rp 14.500 perkilogram.

Karenanya, ia meminta pemerintah terus mengawasi dan campur tangan dalam proses produksi dan distribusi gula. “Tidak fair kalau pedagang ditekan dengan HET tetapi pemerintah tidak bisa menjamin bahwa harga gula yang sampai di pedagang Rp 11.000 atau Rp 11.500 sehingga pedang bisa menjual Rp 12.500 perkilogram. Ini harus dijamin oleh pemerintah,” tuturnya.

Seperti diketahui, selain kesepakatan antara produsen dan distributor gula untuk menjaga harga gula pada level Rp12.500 per kilogram, Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga melakukan pemangkasan jalur distribusi dari produsen ke konsumen. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta sektor swasta dalam pendistribusian gula.

Pemangkasan juga dilakukan dalam alur impor gula. Jika dulunya harus melalui penugasan dari pemerintah ke BUMN, kini Kemendag mengizinkan beberapa pabrik untuk mengimpor langsung gula mentah untuk diolah menjadi gula kristal putih atau gula konsumsi.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini