Image

Investor Lokal Baru 37%, Yuk Nabung Saham Semakin Gencar

ant, Jurnalis · Minggu 12 Februari 2017, 11:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 02 12 20 1616160 investor-lokal-baru-37-yuk-nabung-saham-semakin-gencar-gniykykQDi.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

YOGYAKARTA - Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta tengah menggencarkan kampanye "Yuk Nabung Saham". Kampanye ini merupakan salah satu upaya edukasi investasi bagi masyarakat, khususnya di pasar modal.

"Kampanye itu masih terus kami lakukan karena hingga saat ini persentase investor domestik masih kecil dibanding investor mancanegara," kata Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY Irfan Noor Riza di Yogyakarta, Minggu, (12/2/2017).

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang melek investasi. Dengan begitu, angka korban investasi bodong bisa diminimalkan.

Meski hingga saat ini cukup banyak warga Yogyakarta yang mulai melek investasi, namun jumlahnya masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, jumlah investor di Indonesia secara umum masih dikuasai oleh asing.

"Sampai sekarang jumlah investor di Indonesia berjumlah 400 ribu orang. Dari jumlah itu, investor lokal hanya 37%," kata dia.

Selain meningkatkan jumlah investor pasar modal, kampanye "Yuk Nabung Saham" juga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat memilih wahana investasi yang tepat.

Kampanye "Yuk Nabung Saham" kerap kali dilakukan melalui Galeri Investasi BEI (GI BEI) pada berbagai kampus. Hingga 2016 GI BEI telah terbentuk di 27 kampus pada wilayah DIY dengan didukung 17 perusahaan sekuritas.

"GI BEI tidak hanya bersosialisasi di kampus saja, tapi juga kami terapkan GI BEI Mobile, yaitu sosialisasi dan edukasi ke luar ke kantong-kantong kelompok masyarakat dan komunitas," ujarnya.

Ia menyebutkan, berdasarkan data BEI DIY jumlah investor pasar modal di daerah itu hingga Desember 2016 mencapai 22.291 orang. Jumlah ini meningkat signifikan dibanding 2015 lalu sebanyak 14.952 investor.

Dengan jumlah investor yang terus meningkat, menurut dia, dari sisi transaksi juga menunjukkan angka yang menggembirakan yakni rata-rata Rp269 miliar per bulan. Tren itu meningkat dibandingkan 2015 yang rata-rata mencapai Rp245 miliar. (ded).

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini