Image

Ekspor Januari Naik 27,71%, Ini Penyebabnya!

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Kamis 16 Februari 2017, 14:36 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 02 16 20 1620070 ekspor-januari-naik-27-71-ini-penyebabnya-dGPVuBslUl.jpg Ilustrasi: (Foto: Antara)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor RI sepanjang Januari 2017 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ekspor Januari 2017 sebesar USD13,38 miliar atau naikUSD2,98 miliar (27,71%) dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy). Sementara dibanding Desember 2016, ekspor Januari 2017 mengalami penurunan 3,21%.

Ekspor terdiri dari ekspor migas USD1,27 miliar naik 1,72% (di bandingkan Desember 2016) dan ekspor nonmigas USD12,11 miliar turun 3,7% (dibandingkan Desember 2016).

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, salah satu penyebab naiknya harga komoditas adalah membaiknya harga komoditas di pasar global.

"Kalau dibanding dengan bulan Januari 2016 kenaikannya sangat signifikan sekali yaitu 27,71%. Kita tahu bahwa di triwulan IV-2016 terjadi peningkatan harga komoditas baik migas maupun non migas," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Dia merincikan, ekspor juga didorong pulihnya pertumbuhan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor RI. Antara lain, China dan Amerika Serikat (AS). Meski perbaikan ekonomi masih belum banyak.

"Perkembangan ekspor dari bulan ke bulan, nilai total ekspor selama Januari 2017 itu adalah USD13,38 miliar. Kalau dibanding Januari 2015 dan Januari 2016 masih lebih tinggi. Januari 2015 itu USD13,24 miliar dan Januari 2016 USD10,48 miliar," jelas dia.

Sementara itu, bila dilihat per sektor, ekspor terbesar berasal dari industri pengolahan. Ekspor barang industri pengolahan pada Januari 2017 naik dari USD7,82 miliar menjadi USD9,87 miliar.

Untuk ekspor barang tambang lainnya naik 50,37%, pertanian naik 11,64%. Adapun ekspor hasil pertanian yang meningkat besar itu sayur, kopi, sarang burung.

"Ekspor industri pengolahan yang meningkat tajam adalah minyak kelapa sawit, margarin, industri bahan kimia, besi baja dan industri karet," tukas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini