Harga Komoditas Tersulut Ruwetnya Rantai Distribusi

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 17 Februari 2017 10:10 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 17 320 1620801 harga-komoditas-tersulut-ruwetnya-rantai-distribusi-S1TLKg2ZwM.jpg Ilustrasi: Okezone

SEMARANG – Tingginya harga komoditas cabai merah, bawang merah, dan beras di pasaran dipicu rantai distribusi yang panjang. Berbagai upaya akan ditempuh agar petani memiliki daya tawar harga terhadap hasil panen.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Provinsi Jawa Tengah Santoso menilai mekanisme distribusi dan titik-titik logistik yang ada di Jateng. Komoditas tersebut bahkan harus melewati 6/7 titik distribusi. “Setiap titik ada value atau pendapatan sehingga akhirnya konsumen menerima harga yang tinggi,” ucapnya.

Dia menilai ada beberapa hal yang bisa dilakukan yakni memanfaatkan gudang. Penggunaan gudang agar distribusi bisa dikendalikan. Distribusi yang terlalu panjang akan menyebabkan harga tinggi. Sebagai contoh, pengadaan lelang harga yang dibanderol mulai Rp 90.000 ke atas. “Mereka masih mengacu dari harga pasar seharusnya mekanisme lelang dilakukan Disperindag,” katanya.

Menurutnya, gudang bisa memanfaatkan gudang KUD atau milik Pemprov. Selain itu, gudang yang dibangun Kemendag yang diserahkan ke kabupaten/ kota bisa pula digunakan. “Gudang berfungsi untuk menyimpan komoditas jika terjadi panen raya. Hal ini sebagai upaya menunda jual, kalau harga bagus akan dipasarkan,” ujarnya.

Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra menambahkan, rantai distribusi dimulai dari produsen/ petani, pengepul, supplier utama, distributor utama, pedagang besar, pedagang grosir, dan pedagang eceran.

“Sebagai contoh, petani di level petani Rp8750, lalu naik pengepul jadi Rp18.250. Pedagang eceran naik lagi menjadi Rp 25.300. Begitu seterusnya hingga sampai ke tangan konsumen,” ungkapnya.

Dia menilai perlu sinergi dari semua elemen terkait. Di antaranya kesiapan gudang dari gudang-gudang yang sudah ada, manajemen gudang, perbankan, distribusi, pengelolaan petani, mekanisme penjualan. Petani didorong menyinergikan dengan kelembagaan.

“Karakteristik petani lahan minim atau kecil. Skala produksi juga kecil sehingga tidak punya harga tawar sehingga pengepul datang dengan harga segitu ya udah diterima,” kata Rahmat Dwisaputra.

Harga yang dibanderol pengepul sebaiknya tidak bisa terjadi. Hal ini tidak mencerminkan keadilan bagi petani. Penggunaan gudang diharapkan akan menyimpan hasil produksi komoditas. Kemudian, bersama-sama di gudang akan menaikkan harga jual.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini