Image

HOT SHOT: BJ Habibie Wujudkan Mimpi Industri Penerbangan RI

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Minggu 19 Februari 2017, 18:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 02 19 320 1622506 hot-shot-bj-habibie-wujudkan-mimpi-industri-penerbangan-ri-ZnRCBQ3cYH.jpg BJ Habibie (Foto: Antara)

JAKARTA – Mimpi industri penerbangan Indonesia untuk menerbangkan pesawat buatan anak bangsa mulai terwujud setelah karya mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie berhasil mendapat tempat di hati maskapai Tanah Air.

Habibie melalui PT Regio Aviasi Industri (RAI) tengah mengembangkan pesawat turboprop seri R80 yang diperkirakan mengudara pada 2021. Tadinya pesawat ini dijadwalkan terbang pada 2019, namun karena ada beberapa kendala maka peluncurannya harus diundur.

Rencananya PT Dirgantara Indonesia (DI) akan menjadi kontraktor pengembangan pesawat R80 yang dikembangkan PT RAI. Habibie melalui RAI bekerja sama dengan PTDI melakukan persiapan pengembangan R80.

Pesawat R80 dirancang dan dikembangkan oleh mantan Presiden BJ Habibie beserta putranya Ilham Habibie dan diklaim lebih hemat 10–15% konsumsi bahan bakarnya dibanding saingannya ATR 72.

Dibandingkan ATR 72, pesawat ini juga memiliki badan lebih besar 10% dan lebih panjang 25%. Selain itu, kapasitas penumpang yang bisa diangkut juga cukup besar yakni 100–110 penumpang.

Melalui komponen dalam negeri, pesawat tersebut akan dijual dengan harga USD20–25 juta. Saat ini pesawat R80 tengah tahap praprototipe, antara lain pemilihan komponen mesin, alat navigasi, dan sistem pengendali.

Pesawat buatan Habibie ini memang sudah mendapatkan pengakuan di dunia aviasi internasional, dan disejajarkan dengan pesawat ATR 72-600 buatan Prancis-Italia. Tidak mengherankan, pasalnya Habibie memang belajar kedirgantaraan di luar negeri.

Habibie harus pergi ke Delft, Belanda, untuk belajar penerbangan dan kedirgantaraan di Technische Hogeschool Delft (Delft University of Technology). Sayangnya, adanya sengketa West New Guinea antara Belanda dengan Indonesia membuat dia harus melanjutkan studinya di Technische Hochschule Aachen (RWTH Aachen University) di Aachen, Jerman.

Di Jerman, Habibie menerima gelar insinyur pada 1960 dengan gelar Diplom-Ingenieur. Setelah menyelesaikan sekolah, dia tetap di Jerman menjadi asisten penelitian di bawah Hans Ebner di Lehrstuhl und Institut für Leichtbau, RWTH Aachen, dalam rangka melakukan penelitian untuk gelar doktornya.

Akan tetapi, masalah kesehatan membuat Habibie harus pulang ke Indonesia pada 1962 selama tiga bulan. Saat kembali, dia bertemu dengan Hasri Ainun, putri R Mohamad Besari. Habibie telah mengenal Hasri Ainun di masa kanak-kanak, SMP, dan SMA di SMA Kristen Dago Bandung.

Keduanya kemudian menikah pada 12 Mei 1962 dan kembali ke Jerman tak lama kemudian. Habibie dan istrinya menetap di Aachen sebelum pindah ke Oberforstbach. Pada 1963, mereka memiliki seorang putra yakni Ilham Akbar Habibie.

Sayangnya, kondisi perekonomian yang kurang stabil membuat Habibie hanya diberi upah minimum. Dia pun harus melakukan pekerjaan paruh waktu di sebuah perusahaan automotif, Talbot, dengan menjadi penasihat. Habibie bekerja pada dua proyek yang didanai dari Deutsche Bundesbahn.

Pada 1965, Habibie menyelesaikan gelar doktornya, dan membuat tesis mengenai rekayasa kedirgantaraan. Disertasinya tersebut mendapatkan peringkat sangat baik dan membuahkan gelar Doktor-Ingenieur (Dr-Ing). Di tahun yang sama, ia menerima tawaran Hans Ebner untuk melanjutkan penelitian tentang Thermoelastisitas dan bekerja di habilitasi, tapi ia menolak tawaran untuk bergabung RWTH sebagai profesor.

Habibie kembali mengeluarkan tesis tentang konstruksi ringan untuk negara-negara supersonik atau hipersonik juga menarik perhatian beberapa perusahaan penerbangan ternama seperti Boeing dan Airbus. Namun, tawaran tersebut kembali ditolak oleh Habibie.

Habibie kemudian bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg. Di sana, dia mengembangkan teori tentang termodinamika, konstruksi, dan aerodinamika yang dikenal sebagai Habibie Factor, Habibie Theorem, dan Habibie Method. Dia bekerja di Messerschmitt untuk mengembangkan pesawat Airbus A-300B dan pada 1974, dia dipromosikan menjadi wakil presiden perusahaan.

Di tahun yang sama, Habibie kembali ke Indonesia untuk megembangkan industrialisasi dalam negeri. Habibie pun ditunjuk menjadi asisten khusus Ibnu Sutowo, CEO Pertamina. Dua tahun kemudian, pada 1976, Habibie menjadi Chief Executive Officer (CEO) dari PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Pada 1985, dia mendirikan Indonesia Aerospace yang kemudian dikenal dengan nama PT Dirgantara Indonesia. IPTN berkembang cukup pesat dan mengkhususkan diri dalam pembuatan helikopter dan pesawat penumpang kecil pada 1991. Habibie pun mengawasi 10 industri milik negara termasuk kapal dan kereta-bangunan, baja, senjata, komunikasi, dan energi.

Dalam mengembangkan industri penerbangan di Indonesia, dia mengadopsi pendekatan yang disebut "Awal dari Akhir dan akhir dari sebuah Awal". Dengan metode ini, unsur-unsur seperti penelitian dasar menjadi hal terakhir yang menjadi fokus, sementara manufaktur yang sebenarnya dari pesawat ditempatkan sebagai tujuan pertama.

Di bawah kepemimpinan Habibie, IPTN menjadi produsen pesawat termasuk helikopter Puma dan pesawat CASA. Mereka merintis sebuah pesawat penumpang kecil, N-250 Gatokaca, pada 1995, namun proyek ini gagal untuk menjadi proyek komersial.

Habibie menerima beberapa gelar kehormatan untuk kontribusinya di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Dia dianugerahi gelar kehormatan DSc dari Cranfield Institute of Technology (United Kingdom) dan Dr.h.c. dari Chungbuk National University dan Hankuk University of Foreign Studies (Korea Selatan) untuk jasanya di bidang teknologi pesawat.

Pada 2010, Habibie mendapat gelar kehormatan, PhD Kehormatan untuk Teknologi oleh Universitas Indonesia atas kontribusinya bagi ilmu pengetahuan dalam praktik sebagai seorang teknokrat.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini