nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jokowi Pulang dari Australia, Harga Daging Sapi Bakal Turun

Dedy Afrianto, Jurnalis · Senin 27 Februari 2017 08:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 02 27 320 1628908 jokowi-pulang-dari-australia-harga-daging-sapi-bakal-turun-NQAyqPvDfl.jpg Ilustrasi: Okezone
JAKARTA – Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo berkunjung selama dua hari ke Australia. Dari hasil kunjungan kenegaraan tersebut, berbagai pertemuan yang dilakukan telah memberikan hasil konkrit, di antaranya di bidang ekonomi, politik, hukum dan keamanan, serta peningkatan hubungan people to people.

Di bidang perdagangan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan mengenai relaksasi sapi. Pemerintah telah menetapkan relaksasi berat sapi, dari 350 kg menjadi 440 kg. Dengan kondisi seperti itu, maka harga sapi bakalan turun USD 1 per kg.

Pada waktu dikirim, setelah 4 bulan proses penggemukan, harga daging sapi segar akan turun. "Di luar dari harga daging beku yang sekarang sudah ada dengan maksimum Rp80 ribu per kg," kata Enggartiasto.

Selain itu, Indonesia mendapatkan akses untuk pasar herbisida dan pestisida. Nilai impor Australia untuk kedua jenis zat kimia pembasmi hama tersebut mencapai USD1,3-USD1,5 miliar . Dengan diberikannya akses masuk ini diharapkan nilai ekspor Indonesia untuk kedua jenis zat kimia pembasmi hama tersebut dapat meningkat karena selama ini terhambat oleh tarif.

"Indonesia hanya bisa masuk dengan USD50 juta karena berbagai hambatan tarif," ucap Enggartiasto.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia akan menyamakan tarif bea masuk gula dari Australia dengan gula dari ASEAN. "Jadi kalau dari sisi kita, kita hanya mengalihkan saja. Kita masih tetap impor tapi sekarang sebagian dari Thailand, sebagian bisa juga dari Australia," ujar Enggartiaso.

Upaya ini dilakukan untuk menghindari ketergantungan impor gula dari satu negara." Raw sugar itu kita hanya impor dari Thailand sehingga harganya mereka yang tentukan," ucap Enggartiasto.

Adanya negara lain, dalam hal ini Australia, untuk mengimpor gula, akan dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia. "Maka kita bisa membandingkan dan harga itu diharapkan bisa lebih turun," ujar Presiden.

Untuk ekspor kertas ke Australia, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meyakini tidak akan terjadi hambatan karena Indonesia adalah negara pertama di Asia yang memiliki lisensi Forest Law Enforcement Governance and Trade Voluntary Partnership Agreement (FLEGT VPA). "Dengan adanya FLEGT yang diakui oleh Uni Eropa menunjukkan kesinambungan dari produk Indonesia. Dengan advantage itu, maka saya yakin tuduhan-tuduhan yang berkaitan dengan sustainability tidak beralasan lagi," ucap Retno.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini