Image

RAHASIA SUKSES: Lewat Medsos, Tony Fernandes Sulap Maskapai Bangkrut Jadi Raksasa

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Sabtu 04 Maret 2017, 18:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 04 320 1634138 rahasia-sukses-lewat-medsos-tony-fernandes-sulap-maskapai-bangkrut-jadi-raksasa-GdsD10ssFV.jpg CEO AirAsia Tony Fernandes. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kondisi perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih dari krisis turut memukul pendapatan masakapai-maskapai besar. Meski demikian, pemilik AirAsia Tony Fernandes nampak tidak terusik pelambatan ekonomi global tersebut.

Forbes mencatat, kekayaannya pada awal 2017 ini mencapai USD345 juta. Posisinya dalam jajaran orang terkaya di Malaysia pun naik delapan peringkat, dari sebelumnya berada di posisi 45 menjadi 37. Padahal, dalam beberapa tahun belakangan dia harus merogoh banyak biaya untuk menghadapi kasus kecelakaan dalam AirAsia flight QZ8501.

Oleh karena itu, sekali dalam setiap dua bulan atau lebih, dia menjadi anggota awak kabin di salah satu penerbangan. Bahkan, terkadang dia menangani check-in counter atau mengawasi bongkar muat tas. Dengan demikian, dia mampu melakukan bisnis di negara yang berbeda, dan melihat bagaimana perbedaan budaya bisa memiliki masalah sendiri.

Kecintaannya pada industri penerbangan memang sudah terbina dari kecil. Ketika dia berusia enam tahun, dia mengatakan pada ayahnya bahwa dia ingin memiliki sebuah maskapai penerbangan. Ayahnya, yang seorang dokter pun menyindir, jika dia bisa masuk ke Hilton Hotel, maka ayahnya sudah senang.

Tony Fernandes pun berhasil masuk ke Hotel Hilton, namun dia tidak berhenti di situ. Dia mengatakan menjadi seorang wirausaha sudah menjadi darah dari ibunya yang menjadi penjual Tupperware di Malaysia.

Lahir di Kuala Lumpur pada tahun 1964, Fernandes pergi ke asrama di Epsom, Surrey, sebelum kemudian belajar di London School of Economics. Dia mengikuti jejak pendiri Virgin Airlines Richard Branson dan bekerja untuk Virgin setelah lulus.

Tepat setelah serangan teror 9/11, pada Oktober 2001, Fernandes menggadaikan rumahnya untuk membeli sebuah maskapai penerbangan, saat berusia 37 tahun. Dia pun mengakuisisi AirAsia, maskapai milik negara yang bermasalah karena memiliki utang yang besar. Terinspirasi dari Virgin, Tony memakai branding maskapai AirAsia seperti maskapai besutan Branson sampai ke skema warna dan logo jenis huruf.

Perbedaanya, dia menyasar penerbangan murah ke Eropa. Dengan cara tersebut, dia mengubah AirAsia menjadi perusahaan penerbangan yang menguntungkan dalam waktu dua tahun. Segera armada itu berkembang dengan cepat, dan dalam satu dekade AirAsia terbang 30 juta penumpang per tahun.

Tony Fernandes adalah satu-satunya maskapai yang menerapkan tiket pesawat murah tanpa kehilangan plot. Dia menjadi salah satu CEO pertama yang memanfaatkan kekuatan jaringan media sosial untuk menjual tiket dan memasarkan maskapainya.

Dia pernah menulis dalam status Facebooknya, dalam beberapa jam AirAsia akan membuat langkah signifikan dalam perjalanan kami (sic) menjadi maskapai ASEAN. Beberapa jam setelah dia membuat status tersebut, dia menerima 800 tawaran. Dia juga melakukan promosi minimal 10 tweet per hari.

Selain itu, Tonya juga pernah menyampaikan belasungkawanya di media sosial saat dia menuju ke Surabaya untuk bertemu kerabat dari penumpang pesawat QZ8501 yang terlibat kecelakaan. "Ini adalah mimpi saya lebih buruk," tulisnya di Twitter.

"Tapi kita tidak akan berhenti. Untuk semua staf Airasia harus menjadi bintang, menjadi kuat, terus menjadi yang terbaik. Berdoa keras. Terus melakukan yang terbaik untuk semua tamu," katanya.

Saat ini AirAsia memiliki basis di Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina dan India, dan memiliki listing operasi Indonesia dan Filipina. Fernandes juga bisnis di perhotelan, keuangan, telekomunikasi, olahraga dan pendidikan melalui Tune Group yang didirikan pada 2001.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini