Image

RAJA SALMAN: Hitung-hitungan Pengusaha soal Investasi Arab Saudi

Dedy Afrianto, Jurnalis · Minggu 05 Maret 2017, 17:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 03 05 320 1634760 raja-salman-hitung-hitungan-pengusaha-soal-investasi-arab-saudi-XS10dPmRqH.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Indonesia dan Arab Saudi telah menandatangi kesepakatan kerjasama. Terdapat beberapa hal yang telah disepakati pada pertemuan selama tiga hari di Jakarta. Salah satunya adalah pada sektor energi.

Ketua Koordinator Gas Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Ahmad Wijaya mengatakan, kerjasama ini perlu dimanfaatkan oleh Indonesia untuk meraup keuntungan pada berbagai sektor. Tak hanya industri hilir, industri hulu juga harus dikembangkan melalui kerjasama ini.

"Misalnya industri antara (pertengahan hulu dan hilir). Hari ini kita ada steel. Tapi dari antara ke hilir sudah banyak. Hulu enggak ada. Apakah kita ada refinery minyak lima lagi. Kalau ini enggak ada kita akan tergantung terus pada importasi bahan bakar," tuturnya di Hall Dewan Pers, Jakarta, Minggu (5/3/2017).

Menurutnya, saat ini 70% dari bahan baku di Indonesia harus diimpor dari berbagai negara. Untuk itu, butuh pengembangan industri antara agar kebutuhan industri dapat terpenuhi.

"SDA (Sumber Daya Alam) kita cukup banyak. Sekarang ada industri antara dan industri hilir. Kita industri hulu enggak jalan. Tapi industri antara dan hilir sudah. Tapi dari manapun kita butuh barang datangnya dari mana, ya dari hulu," jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia telah banyak memberikan dampak positif pada kerjasama dengan Arab Saudi. Untuk itu, sudah saatnya Arab Saudi memberikan balasan melalui investasi yang menguntungkan bagi Indonesia. Salah satunya adalah pengembangan kilang dan industri hulu di Indonesia.

"Harus tahu siapa kejar siapa. Posisi sekarang banyakan dari sana. Kalau yang disebut MoU terobosan kita harus jeli juga. Jadi industri hulu dan hilir kuat sekali. Turunan dari pada BBM sudah lanjutan ke bawah, hulu ke kita masuk ke antara dan ke hilir itu how? Jadi Kita perlukan dalam 10 tahun ini bagaimana turunan industri hulu itu dapat dikembangkan," imbuhnya.

Kerjasama investasi pun diharapkan tak hanya menjadi 'pajangan' dalam kunjungan Raja Arab kali ini. Diharapkan, dalam kurun waktu tiga tahun yang akan datang dampak kerjasama investasi ini dapat dirasakan oleh dunia usaha.

"Kalau Aramco di Pertamina ada sedikit peran government. Tapi kita harapkan ini bisa di implementasi. Jadi tiga tahun ke depan bisa dirasakan dampaknya," jelasnya.

Kesalahan pada kerjasama dengan investor dari negara pun dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia. Dengan begitu, hasil investasi tak lagi perlu dibawa ke luar negeri sehingga dapat menekan impor kebutuhan bahan baku secara nasional.

"Kalau pemerintah lihat investasi jangan ekspor lebih banyak. Harus perhatikan dari sisi domestik. Sehingga banyak ekspor ke Jepang itu bisa jadi perhatian juga. Kalau investasi masuk nah turunan industri harus benar-benar terjamin dan yang penting tidak impor," tutupnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini