Image

RAHASIA SUKSES: Surat Resign Antarkan Zhou Qunfei Jadi Wanita Terkaya

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Sabtu 11 Maret 2017, 18:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 03 11 320 1640355 rahasia-sukses-surat-resign-antarkan-zhou-qunfei-jadi-wanita-terkaya-vyxl8R096m.jpg Ilustrasi: Reuters

JAKARTA - Majalah Forbes menobatkan Zhou Qunfei sebagai pengusaha wanita terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai USD7,9 miliar. Zhou merupakan pendiri Lens Technology, sebuah perusahaan pelindung layar bagi Apple dan Samsung.

Zhou telah menjadi produsen kelas dunia, bernilai miliaran dolar dan menjadi salah satu perusahaan yang mendorong manufaktur high-end China. Teknologi Lens Industri sekarang dipakai untuk laptop, tablet dan perangkat mobile, termasuk iPhone Apple dan Samsung Galaxy.

Meski sudah menjadi miliarder, namun Zhou masih sering mondar-mandir di pabriknya untuk "bermain-main". Dia akan mencelupkan tangannya ke dalam nampan air, untuk mengukur apakah suhu yang dipakai sudah tepat. Dia bisa menjelaskan seluk-beluk kaca pemanasan dalam bak ion kalium. Bahkan, ketika dia melewati mesin penggiling, dia akan meminta teknisi untuk mengambil rehat agar dia bisa bermain-main di tempat itu untuk sementara waktu.

Zhou, telah mendefinisikan kelas baru bagi pengusaha perempuan di China, yang kebanyakan mendapatkan kekayaan dari warisan. Saat ini, tidak ada negara yang memiliki miliarder perempuan yang berasal dari pengusaha lebih banyak dari China.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini lahir di sebuah desa kecil di Provinsi Hunan, China tengah, sebuah komunitas pertanian. Ibunya meninggal ketika dia berusia 5. tahun sementara Ayahnya, seorang pengrajin yang terampil, kemudian kehilangan jari dan sebagian besar penglihatannya dalam kecelakaan industri.

Di rumah, dia membantu keluarganya memelihara babi dan bebek untuk makanan dan uang tambahan. Zhou pun terbilang pintar dengan berbagai macam prestasi di sekolahnya. Namun, di desa tempat dia dibesarkan, banyak gadis tidak memiliki pilihan apakah untuk melanjutkan sekolah mereka. Kebanyakan dari mereka akan menikah dan menghabiskan seluruh waktu mereka di desa itu.

Namun tidak dengan Zhou, meskipun dia ingin melanjutkan pendidikan akademisnya, namun Zhou harus putus sekolah pada usia 16 dan ke pergi ke selatan provinsi Guangdong untuk hidup dengan keluarga pamannya. Di sana Zhou pun mendapatkan pekerajaan yang membantu dia membiayai kehidupannya.

Namun, pekerjaan tersebut jauh dari mimpinya menjadi seorang perancang busana. Dia bekerja di pabrik di kota Shenzhen untuk membuat lensa dengan penghasilan sekira USD1 per hari. Sebagai seorang buruh, kondisinya memang tidak terlalu menyenangkan. Dia harus bekerja dari pukul 08:00 hingga 00:00, bahkan tidak jarang harus lembur hingga pukul 02:00.

Setelah tiga bulan, ia memutuskan untuk berhenti dan menulis surat pengunduran diri ke atasannya. Di dalamnya, ia mengeluh tentang jam kerja dan rutinitas hariannya. Meski begitu, dia menyatakan rasa terima kasihnya untuk pekerjaan itu, dan mengatakan dia ingin belajar lebih banyak.

Usahanya tidak percuma, surat tersebut nampaknya meninggalkan kesan mendalam pada kepala pabrik. Kepala pabrik tersebut pun mengadopsi cara produksi baru dan memintanya Zhou untuk tinggal serta menawarkan dia untuk promosi.

Pada 1993, di usianya yang ke 22, Zhou memutuskan untuk mengembangkan bisnis sendiri. Berbekal tabungan USD3.000 dia dan beberapa kerabatnya membuat usaha rumahan mereka sendiri. Mereka memikat pelanggan dengan janji bahwa lensa yang dihasilkan akan memiliki kualitas tinggi.

Di perusahaan baru, Zhou melakukan semua proses produksinya. Dia memperbaiki dan merancang mesin pabrik. Dia belajar sendiri proses screen-printing kompleks dan teknik sulit yang memungkinkan dia untuk mengimprove cetakan bagi kaca melengkung.

Zhou kemudian menikahi mantan bos pabrik nya, mereka memiliki anak namun lantaran obsesif terhadap perusahaannya dia pun bercerai. Dia kemudian menikah dengan seorang rekan pabrik lama dan memiliki anak kedua.

Perubahan nasibnya terjadi pada 2003, kala itu dia masih membuat kaca untuk jam tangan, ketika dia menerima panggilan telepon tidak terduga dari eksekutif Motorola. Mereka bertanya apakah Zhou bersedia untuk membantu mereka mengembangkan layar untuk perangkat baru mereka, Razr V3.

Pada saat itu, tampilan layar pada kebanyakan ponsel terbuat dari plastik. Motorola ingin layar kaca yang lebih tahan terhadap goresan dan memberikan gambar yang lebih tajam untuk pesan teks, foto dan multimedia.

Segera setelah itu, pesanan mulai bergulir dari pembuat ponsel-ponsel lain seperti HTC, Nokia dan Samsung. Kemudian, pada 2007, Apple masuk pasar smartphone dengan iPhone-nya yang memiliki layar kaca sentuh dan menulis aturan baru untuk perangkat mobile. Apple memilih Lens sebagai pemasok dan mendorong perusahaan Zhou lebih besar.

Setelah itu, Zhou berinvestasi dalam fasilitas baru dan menyewa teknisi terampil. Guna mendapat pinjaman, Zhou bahkan menggadaikan apartemennya. Dalam lima tahun, dia pun memiliki pabrik manufaktur di tiga kota.

Dia pun memiliki 75.000 pekerja yang tersebar di tiga fasilitas manufaktur utama yang menempati sekitar 800 hektare di wilayah Changsha. Setiap hari, perusahaan ini melakukan pengiriman massal kaca dari produsen global seperti Corning di Amerika Serikat hingga Asahi Glass di Jepang.

Meski sudah menjadi perusahaan raksasa, namun Zhou tetap menjadi inspektur bagi kualitas kaca yang mereka hasilkan. Zhou pun terus mendesain dan memperhatikan hampir setiap langkah dari proses dan pendekatan. Menurutnya, hal itu memang melelahkan, namun dia beranggapan kelelahan tersebut tidak sebesar jika dia bekerja di perusahaan lain.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini