Image

RAHASIA SUKSES: Ho Ching, CEO Temasek yang Sempat Dikira Pelayan Shangri-La

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Minggu 12 Maret 2017, 18:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 03 12 320 1640724 rahasia-sukses-ho-ching-ceo-temasek-yang-sempat-dikira-pelayan-shangri-la-757uqITpEl.jpg CEO Temasek Ho Ching. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan CEO Temasek Ho Ching pekan ini. Dalam pertemuan tersebut, Luhut mengaku Temasek memiliki ketertarikan dengan Indonesia.

Di bawah Ho Ching, Temasek memang gencar melakukan investasi, termasuk akuisisi perusahaan Indonesia, Indosat. Tidak heran jika kemudian majalah Time dan Forbes menempatkan dirinya dalam jajaran wanita paling berpengaruh di dunia.

Ho Ching adalah CEO dari Singapura milik Pemerintah Temasek Holdings (Pte) Ltd dan istri Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong. Dia adalah anak tertua dari empat bersaudara pengusaha Hoe Eung Hongand Chan Chiew Ping.

Namun, Ho cenderung menghindari media dan jarang berbicara banyak di depan media dalam pertemuan-pertemuan besar. Begitu banyak rahasia yang ada pada dirinya, bahkan usianya pun dirahasiakan.

Namun, hal ini juga terkadang membawa kesialan bagi Ho. Pasalnya, banyak warga yang tidak mengenali Ho. Dia pernah diperintahkan oleh Kepala Pelayan Shangri-La untuk menyeka anggur yang tumpah, lantaran dianggap sebagai salah satu pelayan hotel.

Bahkan, kepala pelayan tersebut mengajarkan cara membersihkan cairan menggunakan seperempat bagian serbet kepada Ho.Meskipun Ho hanya tersenyum, dia jelas membuat manajemen Shangri-La kalang kabut.

Selain itu, dia juga pernah dikira sebagai pemain barongsai saat parade Chingay untuk perayaan Tahun Baru China. Hal tersebut, memang tidak terlepas dari penampilannya yang feminim, tidak seperti politikus wanita kebanyakan.

Dia lulus dari National University of Singapore jurusan Teknik dan menyelesaikan gelar master di bidang Teknik Elektro dari Universitas Stanford di Amerika Serikat. Ho memulai karirnya di Departemen Pertahanan di Singapura sebagai Engineer pada1976. Dia kemudian diangkat menjadi Wakil Direktur dari Defense Material dan menjadi Wakil Direktur Defense Science.

Pada 1985 dia bertemu dengan suaminya, Lee Hsien Loong, putra sulung mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yew. apLee pun mengambil berbagai posisi di kabinet, sementara Ho pindah ke BUMN Singapore Technologies pada 1987, BUMN yang menjalankan bisnis pertahanan, teknologi, properti dan broker saham.

Selain Singapore Technologies, ia telah bertugas di Chartered Semiconductor Manufacturing Ltd sebagai Dewan Direktur sejak 1987 dan menjabat sebagai Ketua Dewan untuk perusahaan sejak tahun 1995.

Di Singapore Technologies, dia menjabat sebagai Director of Engineering, sebuah posisi yang yang bertugas mengamankan kontrak yang dimiliki oleh Temasek. Pada 2001, dia pensiun sebagai Presiden dan Chief Executive Officer Singapore Technologies dan menjadi Wakil Ketua karena memegang saham dan mengendalikan perusahaan.

Di bawah kepemimpinannya, Temasek Holdings, tumbuh dari kustodian pasif menjadi investor aktif dan luar biasa dengan kekuatan finansial besar yang berani mengambil risiko. Temasek Holdings juga telah memperluas investasi mereka ke seluruh Asia-Pasifik termasuk Korea, India, Indonesia, Malaysia dan Pakistan.

Temasek Holdings menembus setiap bagian dari perekonomian Singapura dan telah menjadi salah satu investor yang paling berpengaruh dan paling agresif di India dan China. Temasek membeli saham di China construction Bank Corp. dan Bank of China. Perusahaan investasi ini juga memegang sekitar 189 juta saham di Bank of America setelah mengonversi saham Merrill Lynch-nya.

Sejak 2002, ketika Ho menjabat sebagai CEO, dia telah membentuk perusahaan dengan pedoman kinerja yang lebih baik guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Hasilnya, ekuitas para pemegang saham pun naik dua kali lipat menjadi 90 miliar saham dari periode 2002 hingga 2007.

Pada 2009, dia mengundurkan diri sebagai CEO setelah hampir tujuh tahun di Temasek dan kapitalisasi pasar mencapai USD130 miliar perusahaan investasi milik negara Singapura. Posisinya pun digantikan oleh mantan CEO BHP Billiton Ltd. Charles W Goodyear, orang asing pertama yang menjalankan BUMN Singapura.

Namun, empat bulan transisi kepemimpinan, Dewan Direksi Temasek dan Goodyear berselisih. Dengan alasan ada perbedaan mengenai isu-isu strategis tertentu yang tidak bisa diselesaikan kedua pihak memutuskan untuk mengakhiri proses transisi kepemimpinan. Di tahun yang sama pula, Charles akhirnya mengundurkan diri dari Temasek, dan meninggalkan Ho Ching yang kembali naik menjadi CEO hingga saat ini.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini