Image

Sri Mulyani Taksir Pertumbuhan Ekonomi 2017 di Atas 5,1%

Dedy Afrianto, Jurnalis · Rabu 15 Maret 2017, 20:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 15 20 1643743 sri-mulyani-taksir-pertumbuhan-ekonomi-2017-di-atas-5-1-kYAv0xD81f.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrayani. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Pemerintah dalam APBN 2017 mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%. Target ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu sebesar 5,02%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, prediksi ekonomi 2017 menjadi salah satu patokan untuk merancang APBN 2018. Ekonomi Indonesia sendiri diprediksi dapat tumbuh di atas 5,1% pada tahun ini.

"Ya kita masih membahas untuk 2018. Pertama, dilihat 2017 bagaimana kemungkinan perkembangannya, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi APBN. Dari sisi ekonomi, kita lihat pertumbuhan kemungkinan bisa lebih tinggi dari asumsi 5,1% naik menjadi 5,2%; bahkan ada yang optimis sampai 5,3%," jelasnya di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (15/3/2017).

Harga minyak dan inflasi juga turut diperhatikan oleh Sri Mulyani. Ia mengungkapkan, inflasi adalah salah satu hal yang dimintai oleh Jokowi agar tetap terjaga.

"Kemudian dari sisi harga minyak sudah tinggi dari USD45 per barel. Kita lihat inflasi adalah faktor yang Bapak Presiden menekankan supaya tetap dijaga apabila harga pangan tetap stabil. Tapi ini ada tekanan yang cukup riil dari inflasi, kemudian kurs juga karena inflasi kita relatif lebih tinggi mungkin akan alami tekanan. Nah, dari perubahan asumsi makro ini tentu akan kita lihat pengaruhnya ke APBN," jelasnya.

Sri Mulyani pun menjelaskan kepada Jokowi tentang dampak dari kenaikan harga minyak dunia. Ia menerangkan, pemerintah perlu melakukan penyesuaian subsidi agar tidak membebankan APBN.

"Dari sisi APBN beberapa pos kalau harga minyak naik kurs meningkat maka kita akan mendapatkan penerimaan dari SDA, namun saat yang sama kalau subsidi tidak dilakukan perubahan maka kita juga akan alami kenaikan subsidi, hitungannya terutama pada elpiji, kemudian BBM, dan kenaikan solar. Kenaikan itu saling menghilangkan, sehingga bagaimana kita mengelola APBN tetap tidak berbeda jauh, namun momentum pergerakan dan program pemerintah tidak terganggu, ini yang tadi kita presentasikan," tutupnya. (kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini