nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kelaparan Bukan karena Krisis Makanan, tapi Tak Meratanya Suplai

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 15 Maret 2017 11:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 03 15 320 1643121 kelaparan-bukan-karena-krisis-makanan-tapi-tak-meratanya-suplai-5aLJBHGo31.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Peningkatan produksi pangan berkelanjutan dan melibatkan petani kecil perlu cara inovasi dalam rangka memperbaiki nutrisi dan kesehatan dalam kawasan ASEAN. Keamanan pangan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya mencapai sustainable development goals (SDGs) dari PBB.

Wakil Ketua Kadin dan Ketua Dewan Bisnis untuk Pembangunan Berkelanjutan Indonesia Shinta Kamdani mengatakan, permasalahan keamanan pangan di Asia sangat penting untuk dibahas apabila kawasan ini ingin mencapai sustainable development goal dari PBB.

Isu pangan menjadi masalah serius karena kelaparan yang terjadi bukan karena krisis makanan, melainkan karena tidak meratanya suplai makanan. ”Bahkan hingga saat ini memperoleh makanan sehari- hari merupakan perjuangan bagi 795 orang di seluruh dunia. Beban terbesar sebenarnya berada tidak jauh dari kita karena Asia mencakupi lebih dari 60% dari angka itu,” ungkap dia pada konferensi pers acara RBF on Food and Agriculture di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Shinta melanjutkan, meski mendapat julukan sebagai salah satu lumbung padi di Asia, nyatanya masih banyak masyarakat Indonesia yang menderita kelaparan. Berdasarkan data Bank Dunia, indeks kelaparan Indonesia atau Global Hunger Index Indonesia pada 2016 berada di posisi 21,9%.

”Posisi tersebut mengindikasikan bahwa tingkat kelaparan di Indonesia sudah berada pada kondisi yang serius. Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Laos dan Myanmar,” ungkap dia.

Shinta memaparkan, sebanyak 37% anak Indonesia berusia di bawah lima tahun memiliki tubuh yang kerdil karena kurang gizi. Satu di antara sepuluh bayi lahir dengan berat badan di bawah normal. ”Harus ada ekonomi yang berkeadilan. Kalau kita bicara sektor pangan, perusahaan tidak boleh melihat ini sebagai sebuah industri saja, tapi harus memikirkan tentang sustainable development ,” jelas dia.

Dia menambahkan, para pemimpin bisnis memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan yang dibutuhkan untuk memungkinkan ada keamanan pangan. ”Kami mengajak para perusahaan, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk berbagi praktik-praktik terbaik mereka. Itulah mengapa kami percaya bawa Responsible Business Forum ini sangat penting,” ungkap dia.

Chairman & CEO Golden Agri-Resources Franky Widjaja mengatakan, petani kecil menjadi fokus dalam masalah keamanan pangan. ”Terdapat sekitar 520 juta petani kecil di dunia dengan 45 juta di Indonesia. Karenaitu, petani kecil harus berada di tengah panggung dan menjadi fokus diskusi. Jadi, apa yang harus kami lakukan agar mereka menjadi petani yang sejahtera. Karena kalau tidak, kami tidak akan memperoleh makanan,” ujar dia.

Franky melanjutkan, untuk meningkatkan kualitas petani kecil dibutuhkan teknologi, pengetahuan, akses pasar, serta pembiayaan. ”Semua yang kita lakukan bukan CSR, tapi bagaimana petani kecil ini bisa terangkat, terintegrasi dengan perusahaan,” ungkap dia.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, industri manufaktur dan pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Karena itu, jika sektor pertanian turun, dikhawatirkan produksi juga akan menurun.

”Jadi pertanian harus tingkatkan produksinya, tapi kita juga harus lebih mendorong manufaktur. Manufaktur yang paling kompetitif adalah manufaktur pertanian, jadi dua-duanya harus naik,” tutur dia. Bambang menambahkan, walau SDGs merupakan sebuah tujuan global, tantangan dalam mencapai keamanan pangan cukup sulit, khususnya di Asia yang menyumbang lebih dari 60% kepada kelaparan secara global.

(rzk)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini