Image

Indonesia Perlu Siaga Waspadai Kenaikan Suku Bunga AS Selanjutnya

Dedy Afrianto, Jurnalis · Jum'at 17 Maret 2017, 06:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 16 20 1644793 indonesia-perlu-siaga-waspadai-kenaikan-suku-bunga-as-selanjutnya-Euph5uvesJ.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA - Gubernur Bank Sentral Amerika Janet Yellen telah memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuannya ke posisi 0,75% - 1 %. Suku bunga acuan Bank Sentral AS pun meningkat sebesar 0,25 basis poin.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini telah cukup siap untuk mengahadapi kenaikan suku bunga acuan AS ini. Investor pun telah siap sejak awal tahun 2017 lalu.

"Investor sudah mengantisipasi kenaikan fed ini dari awal Januari," ungkapnya kepada Okezone.

Hanya saja, Indonesia perlu waspada tehadap kenaikan suku bunga AS pada tahun ini. Pasalnya, the Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 3 kali pada tahun ini.

"Yang perlu disiapkan adalah dampak kenaikan Fed Rate dikuartal berikutnya karena diprediksi akan naik 3 kali. Kemungkinan besar BI dalam waktu dekat akan menaikkan 7 days repo sebesar 25 basis poin," jelasnya.

Seperti diketahui, Federal Open Market Committee (FOMC) memproyeksikan adanya tiga kenaikan suku bunga pada tahun 2017. Kemudian, dua atau tiga kenaikan pada 2018 dan tiga di tahun 2019.

Menilik ke belakang, kenaikan suku bunga acuan AS ini memang menjadi salah satu perhatian utama bagi berbagai negara. Untuk itu, sejak dinaikkan pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir pada tahun 2015 lalu, setiap negara akhirnya melakukan antisipasi agar kenaikan suku bunga acuan AS ini tidak berdampak pada ekonomi domestik.

Tak terkecuali Indonesia, antisipasi pun telah dilakukan oleh otoritas moneter agar ekonomi Indonesia 'tahan banting'. Kebijakan yang diambil pun cukup berhasil. Terbukti, pada tahun 2016 lalu ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02%. Indonesia pun menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara G20.

Tak hanya itu, inflasi Indonesia pada tahun lalu juga dapat dikendalikan. Dengan total inflasi sebesar 3,02%, dampak lebih luas dari kenaikan the Fed pun dapat diantisipasi.

"Jadi kalau dari sisi makro kita juga masih kuat. Investor juga siap jauh-jauh hari," tutupnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini