Image

Ini "Senjata" BI Hadapi Kenaikan Suku Bunga AS

Dedy Afrianto, Jurnalis · Kamis 16 Maret 2017, 21:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 16 20 1644808 ini-senjata-bi-hadapi-kenaikan-suku-bunga-as-33HqcooLZ0.jpg Foto: Dedy/Okezone

JAKARTA – Bank Sentral Amerika Serikat (AS) telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis point. Hal ini pun direspons oleh Bank Indonesia (BI) dengan menahan suku bunga acuannya pada level 4,75%.

Hanya, The Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya jelang akhir 2017. BI pun telah mempersiapkan langkah-langkah agar pasar tak terdampar negatif bagi kebijakan The Fed.

"Kami siap di posisi apa pun. Bahkan menaikan ataupun masih ada ruang menurunkan (7 Day Repo Rate)," tutur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (16/3/2017).

Saat ini, Indonesia memang memiliki risiko pada tingginya inflasi. Hal itu disebabkan adanya kenaikan tarif dasar listrik. Ini pun turut menjadi salah satu perhatian bagi BI untuk menghadapi kenaikan suku bunga acuan AS.

"Risiko itu bisa muncul dari global, inflasi, kurs, domestik juga bisa diihat harga tarif dasar listrik naik dampaknya terlihat di inflasi. Kalau kami kenal core inflation tertekan di atas misalnya target kami tentu harus ada stance yang berubah. Kami punya bauran kebijakan baik suku bunga, nilai tukar, makroprudensial untuk addres inflasi," tuturnya.

Bauran kebijakan inilah yang nantinya dapat digunakan oleh Bank Indonesia (BI) untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga AS. Di samping itu, komunikasi yang baik juga harus dijalin dengan perbankan dan pelaku pasar.

"Kalau kita lihat suku bunga digunakan untuk sasaran inflasi. Kita juga bisa gunakan kebijakan nilai tukar. Kita juga gunakan makroprudensial, yang penting adalah komunikasi terutama dari inflasi. Ini bukan permanen tapi karena kenaikan tarif listrik akan kita perhatikan," jelasnya.

Tingginya inflasi akibat kenaikan tarif listrik pun akan dijelaskan oleh BI kepada pelaku pasar. Melalui penjelasan ini, diharapkan ekonomi Indonesia tetap dapat stabil dengan tingginya kepercayaan dari para investor.

"Subsidi pemerintah harus direformasi karena memberikan beban kepada fiskal karena itu subsidi pada listrik dikurangi. Sehingga ini membentuk ekspektasi pasar sehingga inflasi dikurangi," ungkapnya.

Melalui komunikasi yang baik, pasar nantinya dapat merespon dengan baik berbagai kebijakan baik domestik maupun dari luar negeri. Kerjasama dengan pelaku pasar pun harus tetap dijalin.

"Jadi tanpa harus naikkan suku bunga dan pasar tidak naikkan ekspektasi inflasi, itu baik," tutupnya. (kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini