Image

Dampak Kenaikan Suku Bunga AS Belum Terasa dalam Jangka Pendek

Dedy Afrianto, Jurnalis · Kamis 16 Maret 2017, 11:56 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 03 16 278 1644159 dampak-kenaikan-suku-bunga-as-belum-terasa-dalam-jangka-pendek-yrnaTRHsVa.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Janet Yellen telah memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuannya ke posisi 0,75% - 1 %. Suku bunga acuan Bank Sentral AS pun meningkat sebesar 0,25 basis poin.

Kenaikan tingkat suku bunga ini sesuai dengan sinyal yang disampaikan Yellen. Pasar global pun telah mengantisipasi kebijakan moneter Negeri Paman Sam.

Lantas, bagaimana dampaknya bagi Indonesia?

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, kenaikan suku bunga acuan AS ini belum akan berdampak pada Indonesia dalam jangka pendek. Hal ini terlihat dari masih membaiknya nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pengumuman dari the Fed.

"Sepertinya dalam jangka pendek dampak belum terasa. Rupiah hari ini dibuka menguat. Selain itu IHSG justru naik 1%," ujarnya kepada Okezone, Kamis (16/3/2017).

Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia dibuka menguat 33 poin atau 0,25% menjadi Rp13.331 per USD. Rupiah pagi ini bergerak di kisaran Rp13.372-Rp13.379 per USD.

Menurut Bhima investor telah lama bersiap menghadapi kenaikan suku bunga acuan AS ini. Ekonomi Indonesia pun telah cukup siap untuk menghadapi kenaikan suku bunga acuan AS.

"Artinya investor sudah mengantisipasi kenaikan fed ini dari awal Januari," ungkapnya.

Kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, lanjutnya, juga dapat dilihat dari surplus neraca perdagangan pada Februari lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan pada Februari lalu mencapai sebesar USD 1,32 miliar.

Nilai ekspor Indonesia pada Februari lalu adalah sebesar 12,57 USD miliar atau mengalami penurunan sebesar 6,17% dibandingkan dengan nilai ekspor pada bulan Januari 2016 (month to month/mtm). Sementara itu, pada sektor impor BPS mencatat terjadi penurunan secara month to month sebesar 5,96% menjadi USD11,26 miliar pada Februari lalu.

"Kekuatan fundamental kita terlihat dari surplus neraca perdagangan Februari 2017 yang mencapai USD1,32 juta," ungkapnya.

Seperti diketahui, dalam pernyataannya, Yellen menjelaskan kenaikan the Fed Rate dilakukan menyusul adanya indikator positif dari makro ekonomi mereka. Inflasi terkendali di posisi 2 persen dan konsistennya angka ketenagakerjaan yang tumbuh cepat dan stabil.

"Kami berharap kebijakan moneter ini berdampak positif, ekonomi akan stabil dan bisa berekspansi lebih moderat," demikian seperti dikutip dari keterangan tertulis Janet L Yellen dari situs Bank Sentral AS.

Dalam jangka pendek, ekonomi outlook Amerika diproyeksikan tetap seimbang. Komite, lanjut Yellen, akan terus memantau pergerakan indikator inflasi dan pengembangan sektor keuangan.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini