Image

OJK Dorong Bank Tingkatkan Layanan Digital

Agregasi Senin 20 Maret 2017, 14:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 03 20 320 1647234 ojk-dorong-bank-tingkatkan-layanan-digital-YhjQMLgXzx.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kalangan industri perbankan untuk memaksimalkan layanan digital agar biaya operasional semakin efisien, sehingga dapat mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan yang saat ini rata-rata masih bertahan dua digit.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon, efisiensi perbankan mutlak harus dilakukan. “Salah satunya dengan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi, dan pada akhirnya bisa menurunkan suku bunga,” ujarnya dalam diskusi Perbankan Digital di Jakarta, belum lama ini.

Dalam meningkatkan layanan digital, menurut dia, perbankan perlu menyiapkan diri, termasuk dalam penganggaran belanja modal teknologi informasi (TI). Selain belanja modal untuk TI, beberapa tantangan lainnya adalah industri juga perlu mengubah orientasi dari cara konvensional untuk melayani nasabah menjadi pelayanan digital.

Pada sisi lain, kerja sama perbankan dan industri telekomunikasi juga harus terjalin dengan baik. “Dari sisi regulator, ada juga penyelarasan aturan antara regulator.” ujar Nelson

Terkait dengan kondisi tersebut, OJK juga telah membentuk Tim Gugus Tugas Perbankan Digital. Tim ini akan mengkaji dan menyimpulkan rekomendasi mengenai peta jalan penerapan perbankan digital di negeri ini. Tim Gugus Tugas tersebut telah melakukan kajian awal.

Berdasarkan kajian tersebut, tim menyimpulkan bahwa perbankan dan penyedia jasa telekomunikasi berkomitmen untuk menghadirkan sejumlah layanan berbasis teknologi digital. “Namun, ada beberapa hal yang menjadi perhatian yaitu penggunaan identitas tunggal, seperti KTP elektronik bagi perbankan sebagai basis data nasabah,” ujarnya.

Hasil kajian itu, menurut Nelson, OJK melihat perbankan perlu menerapkan manajemen risiko yang baik dan model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, “Perlu juga peningkatan pengamanan. Penerapan perbankan digital menyebabkan pintu masuk bagi pelaku kriminal siber menjadi lebih terbuka,” katanya.

OJK tengah mendorong peningkatan efisiensi perbankan, dengan mengeluarkan insentif bagi perbankan agar dapat menurunkan biaya operasional (overhead cost) dan biaya risiko kredit bermasalah. Ini efisiensi diperlukan agar perbankan memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga kredit ke single digit pada 2017.

Berdasarkan data perkembangan uang beredar yang dipublikasikan Bank Indonesia, pada Januari 2017, rata-rata suku bunga kredit tercatat masih berada di kisaran 10-12% per tahun.

Sebelumnya, Patrick Walujo, Kepala Badan Teknologi Startup Kadin Indonesia Patrick Walujo mengatakan, salah satu kunci untuk meningkatkan keuangan inklusif di Indonesia adalah dengan memperluas akses masyarakat ke lembaga keuangan. “Perkembangan fintech akan membuat lembaga keuangan lebih mudah dijangkau masyarakat, karena relatif tak terkendala infrastruktur,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Melalui Fintech, menurut dia, edukasi mengenai produk keuangan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Dengan catatan, produk fintech juga harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Fintech menyediakan data analytics yang menawarkan kekayaan informasi untuk menyusun produk yang tepat ke target yang tepat,” ujar Patrick yang juga menjabat sebagai Co-Founder dan Managing Partner Northstar Group.

Seperti diketahui, indeks keuangan inklusif (IKI) Indonesia pada 2014 lalu sebesar 36% atau jauh berada di bawah IKI negara-negara ASEAN seperti Thailand (78%), Malaysia (81%). Karena itu, implementasi Strategi Nasional Keuangan Inklusif dengan kelembagaan yang kuat diharapkan dapat mendongkrak persentase akses layanan keuangan pada lembaga keuangan formal sebesar 75% pada akhir 2019.

“Keseriusan pemerintah dalam menghadirkan regulasi yang dapat menggairahkan industri fintech akan menjadi langkah strategis mencapai tujuan keuangan inklusif tersebut,” ujar Patrick.

Perkembangan teknologi secara umum pun dianggap turut membantu peningkatan keuangan inklusif. Go-Jek, misalnya, transportasi daring yang memiliki lebih dari 200 ribu mitra pengemudi ojek tersebut telah mengenalkan produk keuangan kepada seluruh mitranya.

Seluruh mitra pengemudi Go-Jek pasti memiliki akun di bank sebagai sarana pembayaran penghasilannya. Tidak cuma itu, Gojek bahkan menyediakan asuransi kesehatan bagi mitra pengemudi dan keluarga mereka dengan premi yang sangat terjangkau.

“Banyak dari mitra kami yang baru pertama kali bisa mengakses produk-produk keuangan ini. Semua baru tahap awal, karena masih banyak lagi pengembangan teknologi yang akan kami lakukan yang kami harap dapat membantu pemerintah mendorong implementasi inklusi keuangan,” ujar Nadiem Makarim, Co-Founder dan CEO Go-Jek.

Keseriusan perkembangan Fintech juga terlihat dari upaya bank-bank besar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, misalnya, lewat anak usahanya Mandiri Capital Indonesia (MCI). Menurut Kartika Wirjoatmodjo, Dirut Bank Mandiri, tidak kurang dari 80% pendanaan di MCI akan mengalir ke Fintech.

Hal ini dikarenakan optimisme perseroan terhadap perkembangan e-commerce yang akan menjadi industri unggulan di Indonesia. “Fokus mendukung fintech akan menjadi langkah strategis memenangkan kompetisi di sektor pembayaran digital,” ujarnya. mohar

(rzk)

  • TAG :
  • JK

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini