Image

Antisipasi Kerusakan Terumbu Karang, Pemerintah Bakal Larang Kapal Pesiar Melintas?

Dedy Afrianto, Jurnalis · Senin 20 Maret 2017, 20:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 20 320 1647679 antisipasi-kerusakan-terumbu-karang-pemerintah-bakal-larang-kapal-pesiar-melintas-CHpkxmryOW.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - MV Caledonian Sky pada awal Maret lalu kandas di atas sekumpulan terumbu karang di Raja Ampat. Kandasnya kapal pesiar ini berdampak pada rusaknya terumbu karang pada kawasan tersebut.

Deputi I Bidang Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Maritim Havas Oegroseno mengatakan, pemerintah pun telah mempersiapkan sejumlah rencana untuk mengantisipasi kejadian serupa. Salah satunya adalah melarang kapal pesiar untuk melintas pada kawasan tertentu.

"Kapal cruise itu kan tadinya enggak mau masuk Indonesia, lama. Nah, dengan adanya upaya kita menarik cruise, mau enggak mau jadi tantangan tersendiri. Kalau kita lihat di Australia pun kapal cruise masuk juga. Nah, ini jadi buat evaluasi ke depan," tuturnya di Kantor Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Jakarta, Senin (20/3/2017).

Menurutnya, pemerintah juga akan melakukan zonasi wilayah yang dapat dilalui oleh kapal pesiar. Hanya saja, rencana ini masih dalam tahap kajian.

"Bisa, nanti diatur navigasinya, ini kawasan zona no take, ini zona inti, navigasi di sebelah sini, ini kedalaman sekian, ini kan diatur semua begitu," jelasnya.

Seperti diketahui, kerusakan terumbu karang ini akan diganti oleh perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh MV Caledonian Sky. Hanya saja, perusahaan asuransi tersebut hanya bersedia mengganti apabila data dari pemerintah akurat.

"Mereka enggak ada ceiling mereka punya pertanggungan yang unlimited. Mereka hanya mengatakan pada saya mereka akan membayar semua segala tuntutan kita dengan syarat dua. Pertama verifikasi, dan kedua jumlahnya reasonable," ungkapnya.

Pemerintah pun meyakini bahwa perusahaan asuransi tersebut akan melakukan ganti rugi. Pasalnya, sebelumnya ganti rugi juga telah dilakukan pada kasus lainnya.

"Mereka sudah biasa ya, seperti ini sudah bisa kalau kita lihat kasus Tumpahan minyak di Kanada waktu itu ganti ruginya sampai USD 8oo juta dolar, meraka biasa saja. Lalu di Selat Malaka pada waktu ada tabrakan kapal Hyundai, 400 mobil Itu dibayar juga sama dia," tukasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini