Image

Persaingan Makin Ketat, Ubah Kantor Jadi Co-Working Space Jadi Solusi?

Trio Hamdani, Jurnalis · Senin 20 Maret 2017, 13:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 03 20 470 1647160 persaingan-makin-ketat-ubah-kantor-jadi-co-working-space-jadi-solusi-SzOvQjnFD8.jpg Ilustrasi : Shutterstock

JAKARTA - Kondisi perekonomian global yang masih belum begitu stabil menimbulkan tren tingkat keterisian atau okupansi kantor mengalami penurunan. Ditambah, laju pertumbuhan gedung perkantoran terbilang cepat, dan tidak berimbang dengan tingkat permintaan konsumen.

Secara tidak langsung developer gedung perkantoran pun saling memperebutkan calon konsumen yang hendak menyewa kantor, sebab dengan banyaknya ketersediaan ruang kantor yang belum terisi memberikan banyak pilihan bagi calon konsumen.

Saat ini, kantor dengan konsep yang digagas melalui co-working space mengalami pertumbuhan yang lumayan pesat. Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia Anton Sitorus pun mengatakan, sah-sah saja apabila developer gedung perkantoran memiliki ide untuk mengubah sebagian ruang kantor menjadi co-working space.

"Kalau sebagaian (ruang) saja sih bisa saja, cuma sebagian kecil paling," katanya ketika dihubungi Okezone di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Namun, ia menilai, jika developer gedung perkantoran mengubah area kantornya menjadi co-working space, developer harus siap-siap menanggung kerugian. "Bisa-bisa saja (diubah jadi co-working space), cuma kalau di ubah menjadi co-working space dia rugi dong," jelasnya.

"Makanya kalau dia mau mengubah area kantor menjadi sesuatu yang lain, kan perlu dihitung dulu cost-nya, lalu dan lain sebagainya. Kalau co-working space itu kan dia berarti turun dong, turun pasar, jadi mungkin kurang paslah," lanjutnya.

Ditambah lagi, investasi yang digelontorkan untuk membangun gedung perkantoran dinilainya tak sedikit, sementara market co-working space lebih menyasar perusahaan-perusahaan baru.

"Karena gedung kantor itu kan untuk biaya investasinya sudah besar, kalau co-working space itu kan marketnya lebih ke perusahaan-perusahaan baru ya mungkin harganya juga masih di bawah," tambahnya.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini