Image

Asia Tenggara Butuh USD3,1 Miliar untuk Bangun Infrastruktur

Dedy Afrianto, Jurnalis · Selasa 21 Maret 2017, 11:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 21 20 1648024 asia-tenggara-butuh-usd-3-1-miliar-untuk-bangun-infrastruktur-A9cpYVd0xt.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) mencatatat, kawasan Asia yang sedang berkembang perlu investasi sebesar USD1,7 triliun per tahun. Untuk itu, refomasi di sektor keuangan publik perlu dilakukan. Reformasi ini diharapkan dapat menghasilkan pendapatan tambahan yang diperkirakan mampu menjembatani sekitar 40% kesenjangan investasi pada kawasan ini.

Selain itu, agar sektor swasta dapat mengisi kesenjangan yang tersisa (3% dari PDB), negara-negara di Asia perlu meningkatkan investasi dari sekitar USD63 miliar saat ini hingga USD250 miliar per tahun untuk periode 2016-2020.

"Pembangunan berbasis teknologi juga dibutuhkan. Banyak negara yang butuh bangun infrastruktur," kata Vice President ADB Bambang Susantono di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Sementara itu, Deputy Chief Economist, ADB Juzhong Zhuang mengatakan, Asia Tengah membutuhkan total kebutuhan investasi terbesar pada kawasan Asia. Nilainya pun mencapai USD 565 miliar.

Adapun total investasi yang dibutuhkan oleh regional di Asia pada tahun 2016 hingga 2030 adalah sebagai berikut:

1. Asia Tengah

Investasi yang dibutuhkan: USD 565 miliar (7,8% dari PDB).

2. Asia Timur

Investasi yang dibutuhkan: USD 16,02 miliar (5,2% dari PDB).

3. Asia Selatan

Investasi yang dibutuhkan: USD 6,3 miliar (8,8% dari PDB).

4. Asia Tenggara

Investasi yang dibutuhkan: USD 3,1 miliar (5,7% dari PDB).

5. Pasifik

Investasi yang dibutuhkan: USD 46 miliar (9,1% dari PDB).

Bank pembangunan multilateral (multilateral development banks/MDB) pun telah mendukung sekitar 2,5% dari investasi infrastruktur di Asia yang sedang berkembang. Jika investasi di China dan lndia tidak dihitung, kontribusi MDB naik melebihi 10%.

Proporsi pembiayaan ADB yang masuk ke proyek infrastruktur sektor swasta pun kini semakin besar. Selain pembiayaan, ADB berperan penting di Asia dengan membaglkan keahlian dan pengetahuannya untuk mengidentiflkasl, merancang, dan melaksanakan proyek yang baik.

Keahlian dan pengetahuan ini bermanfaat dalam meningkatkan skala operasi, memadukan teknologi yang Iebih canggih dan lebih bersih ke dalam proyek, serta merampingkan prosedur. ADB juga mendorong kebijakan yang ramah investasi, serta reformasi regulasi dan kelembagaan.

"Perlu reformasi pajak, orientasi belanja pemerintah, hingga nontax revenue," tutup Juzhong Zhuang.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini